RAKYATDAILY.COM – Hamparan gurun Arab Saudi mendadak menjadi pusat perhatian dunia.
Bukan karena badai pasir. Bukan pula karena fenomena alam.
Melainkan sebuah sosok biru terang yang berdiri di antara batuan kuno.
Patung figur perempuan berwarna biru elektrik bernama Najma menjadi perbincangan publik setelah dipamerkan dalam ajang seni Desert X AlUla di kawasan bersejarah AlUla, wilayah Madinah, Arab Saudi.
Karya tersebut merupakan ciptaan seniman asal Amerika Serikat, Lita Albuquerque.
Instalasi itu menampilkan figur perempuan dalam posisi duduk bermeditasi dengan gaya lotus di atas bebatuan kawasan Wadi Al Fann.
Dari kejauhan, warna biru menyala patung itu kontras dengan hamparan gurun yang kering dan cokelat.
Bentuknya menjadi titik visual yang mencolok di tengah lanskap sunyi.
Sebuah karya modern yang bertemu dengan ruang sejarah ribuan tahun.
Namun, kehadiran “Wanita Biru” tidak hanya menghadirkan decak kagum. Karya tersebut juga memunculkan perdebatan.
Sebagian masyarakat mengkritik keberadaan patung figuratif manusia di kawasan yang memiliki nilai religius dan budaya kuat.
Mereka menilai pemasangan karya berbentuk tubuh perempuan di wilayah Madinah tidak sejalan dengan sensitivitas tradisi Islam yang selama ini menghindari representasi makhluk bernyawa dalam seni.
Perdebatan pun bergulir. Antara seni modern dan nilai tradisi. Antara ruang ekspresi global dan batas budaya lokal.
Lita Albuquerque menyebut Najma bukan sekadar patung perempuan.
Ia menggambarkan sosok astronaut fiktif yang datang ke bumi membawa pesan tentang pengetahuan, hubungan manusia, dan pemahaman lintas budaya.
“Ini adalah momen bersejarah. Pintu akhirnya terbuka untuk kolaborasi seperti ini yang menyatukan seniman internasional, Timur Tengah, dan Arab Saudi,” ujar Albuquerque.
Menurutnya, penerimaan karya tersebut menjadi bagian dari perubahan lanskap seni di Arab Saudi.
Pihak penyelenggara Desert X AlUla juga menjelaskan bahwa pameran tersebut menghadirkan 14 instalasi berskala besar.
Tujuannya untuk membuka ruang dialog budaya sekaligus memperkenalkan potensi kawasan AlUla sebagai pusat seni dan ekonomi kreatif.
Di bawah matahari gurun yang terik, patung biru itu berdiri diam. Tidak bersuara. Tidak bergerak.
Tetapi warnanya memancing banyak suara.
Ada yang melihatnya sebagai simbol keterbukaan. Ada pula yang memandangnya sebagai tantangan terhadap nilai lama.
Najma akhirnya bukan hanya menjadi sebuah karya seni. Ia menjadi percakapan besar tentang batas antara tradisi, agama, dan dunia modern.