RAKYATDAILY.COM – Pernyataan Joko Widodo (Jokowi) soal percakapan telepon dengan tokoh Timur Tengah menuai sorotan publik.
Ia menyebut menghubungi pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), namun yang disebut justru nama Mohammed bin Salman.
Momen tersebut terjadi dalam acara Relawan Gibran dan langsung menjadi perbincangan luas di media sosial.
Dalam kesempatan itu, Jokowi mengaku menelepon “kakaknya” di Timur Tengah untuk menanyakan kapan konflik di kawasan tersebut akan berakhir.
Namun, ia menyebut nama MBS sebagai sosok yang dihubungi, padahal MBS merupakan Putra Mahkota Arab Saudi.
Sementara itu, pemimpin UEA adalah Mohammed bin Zayed atau MBZ.
Pernyataan tersebut menuai kritik dari kader PDIP, Mohamad Guntur Romli.
Ia menilai penyebutan yang keliru menunjukkan ketidaktepatan dalam memahami geopolitik.
“Bagaimana mungkin seorang mantan kepala negara mengklaim kedekatan emosional sampai level ‘kakak-adik’, tapi salah menyebut identitas orangnya? Ini kombinasi antara sifat norak dan ketidaktahuan geopolitik yang akut,” ujarnya.
Guntur juga mengkritik substansi pertanyaan Jokowi terkait perang di Timur Tengah.
Menurutnya, pertanyaan tersebut tidak tepat jika ditujukan kepada negara-negara Teluk.
“Menanyakan ‘kapan perangnya selesai’ kepada MBS atau MBZ itu seperti bertanya kapan api padam kepada tetangga korban kebakaran,” sindirnya.
Pernyataan Jokowi langsung viral dan memicu beragam reaksi netizen.
Sebagian menyoroti kesalahan penyebutan tokoh, sementara lainnya mempertanyakan konteks pembicaraan yang disampaikan.
Polemik ini menambah daftar pernyataan publik yang menuai kontroversi.
Akurasi dalam menyampaikan informasi, terutama terkait isu internasional, dinilai menjadi hal penting bagi tokoh publik.
Sumber: Fajar