RAKYATDAILY.COM – Wabah virus Nipah di India kembali menggegerkan dunia.
Penyakit yang berasal dari kelelawar buah itu kembali menjadi sorotan internasional akibat tingkat kematiannya yang sangat tinggi.
Bahkan bisa mencapai 40 hingga 70 persen, bergantung pada kualitas penanganan di wilayah terdampak.
Setiap kali kasus baru muncul, kekhawatiran global pun langsung meningkat karena belum ada vaksin maupun obat yang bisa menekan penyebarannya.
India menjadi pusat perhatian setelah beberapa kasus kembali terdeteksi di wilayah West Bengal.
Kondisi ini membuat sektor kesehatan internasional waspada, mengingat sejarah wabah sebelumnya yang selalu menimbulkan korban tinggi.
Transmisi virus Nipah yang dapat menimbulkan infeksi pernapasan akut hingga ensefalitis membuatnya berada dalam kategori penyakit berbahaya yang masuk daftar patogen prioritas WHO.
Indonesia sendiri menegaskan belum menemukan kasus apa pun terkait virus Nipah. Namun kewaspadaan tetap diperketat, terutama di pintu-pintu masuk negara.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa pemerintah sudah menyiapkan langkah mitigasi jika situasi memburuk.
“Tapi kita sudah mempersiapkan, sudah sosialisasi, dan kita sudah siapin reagen PCR-nya. Sama kayak virus, tesnya pake PCR,” ungkap Menkes dikutip pojoksatu.id dari detikhealth
Meski virus ini tidak menyebar secepat Covid-19, tingkat fatalitasnya yang sangat tinggi membuatnya jauh lebih ditakuti.
Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan hewan pembawa seperti kelelawar buah atau babi, maupun melalui makanan yang terkontaminasi.
Karena itu, negara-negara Asia kini memperketat pengawasan kesehatan di bandara.
Menkes Budi juga memberi imbauan khusus bagi masyarakat yang hendak bepergian ke wilayah Asia Selatan.
Dengan kondisi global yang dinamis, kewaspadaan tetap menjadi langkah terbaik.
Publik diminta mengikuti informasi resmi dan menjaga kebersihan diri, termasuk memastikan makanan dalam kondisi bersih dan aman sebelum dikonsumsi.
Sumber: PojokSatu