RAKYATDAILY.COM – Dalam khazanah Islam, terutama dalam tradisi tasawuf, istilah “Wali Allah” sering kali disandingkan dengan kisah-kisah luar biasa atau karomah, kejadian di luar hukum alam yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang saleh.
Namun, esensi sejati dari kewalian, yakni kerendahan hati, justru sering terabaikan di balik pesona mukjizat tersebut.
Drs. H. Suteja, M.Ag, dalam Buku Kepribadian Sang Wali Allah dengan cermat mengulas hakikat kewalian bukan sebagai ajang pamer kehebatan, melainkan sebagai manifestasi dari kepribadian yang tawadhu’ (rendah hati), zuhud, dan dekat dengan Allah.
Dalam perpektif tasawuf, bahwa karomah terbesar seorang wali justru terletak pada akhlaknya yang mulia dan kerendahan hatinya di hadapan Allah dan sesama.
Artikel ini akan mengupas bagaimana kisah-kisah karomah dalam perspektif tasawuf justru menjadi medium pengajaran tentang kerendahan hati, nilai yang menjadi inti dari perjalanan spiritual seorang salik (penempuh jalan ruhani/tasawuf).
Ada sejumlah wali Allah yang kisah kerendahan hatinya menjadi inspirasi. Di antaranya adalah Imam Ghazali, Ibnu Arabi hingga Rabi’ah al-Adawiyah dan Abu Dzar al-Ghifari.
Mari simak kisah karomah wali allah yang mengajarkan kerendahan hati, dan makna di baliknya.
Mukjizat spiritual justru sering datang dalam bentuk kesederhanaan dan keteladanan akhlak.
Hal itu salah satunya diperlihatkan Imam Ghazali, salah satu imam besar dalam bidang keilmuan Islam.
Imam Al-Ghazali (1058–1111 M) dikenal sebagai Hujjatul Islam, sang pemikir brilian yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Nizhamiyah Baghdad, jabatan akademik tertinggi di masanya.
Namun, di puncak karier dan kehormatannya, ia justru dilanda krisis spiritual yang dalam.
Pada usia sekitar 37 tahun, Ghazali mengalami “kebingungan intelektual” yang parah.
Ia merasa ilmu yang dikuasainya; filsafat, kalam, fikih, tak cukup membawanya pada keyakinan hakiki.
Dalam al-Munqidz min al-Dhalal, ia menggambarkan betapa dirinya seperti “tersesat dalam lautan keraguan”.
Karomah yang ditunjukkan Ghazali bukanlah kemampuan berjalan di atas air atau membaca pikiran orang, tetapi keberanian radikal untuk “mati sebelum mati”.
Ia meninggalkan segala kemewahan, jabatan, dan reputasi demi mencari hakikat hidup. Selama hampir 11 tahun, ia mengembara, berkhalwat, dan mendalami tasawuf.
Dalam pengembaraannya itu, ia justru menghasilkan mahakarya Ihya’ Ulum al-Din, karya monumental yang menyelaraskan syariat dan hakikat, akal dan hati.
Karomah sejatinya terletak pada transformasi diri dari seorang profesor terkenal menjadi peziarah spiritual yang rendah hati, dari pemikir rasional menjadi pecinta Ilahi yang tawadhu’.
“Tasawuf al-Ghazali adalah tasawuf yang memadukan secara tepat antara fikih sebagai perwakilan aspek eksoteris dengan etika dan estetika sebagai perwujudan dari dimensi esoteris.” (hlm. 16, 42)
Pelajaran Tawadhu’:
Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165–1240 M) sering dianggap sebagai sosok kontroversial karena ajaran Wahdatul Wujud-nya. Namun, di balik kedalaman filosofisnya, ia adalah contoh teladan kerendahan hati.
Dalam syair-syairnya, Ibn ‘Arabi tak pernah mengklaim diri sebagai “yang menyatu dengan Tuhan”.
Justru, ia selalu menekankan statusnya sebagai ‘abd (hamba). Dalam al-Futuhat al-Makkiyah, ia menulis:
“Kewalian adalah tingkatan hamba, bukan tingkatan Tuhan. Seorang wali tetaplah hamba yang menyembah, bukan yang disembah.”
Ibn ‘Arabi dikenal sangat menghormati guru-guru spiritualnya, bahkan terhadap ulama yang mengkritiknya.
Suatu kali, ketika dikritik keras oleh ulama fikih, ia hanya tersenyum dan berkata: “Semoga Allah memberinya cahaya untuk melihat apa yang tidak ia lihat.”
Karomah Ibn ‘Arabi terletak pada kemampuannya menjaga hati tetap rendah, meski pemikirannya dianggap “terlalu tinggi” bagi banyak orang.
Ia tidak pernah menjadikan ilmu sebagai alat untuk pamer atau merendahkan orang lain.
“Bagi Ahmad Sirhindi, tujuan tasawuf bukanlah untuk mendapat pengetahuan intuitif, melainkan untuk menjadi hamba Allah… tidak ada tingkatan yang lebih tinggi dibanding tingkat ‘abdiyyah (kehambaan).” (hlm. 48-49)
Pelajaran Tawadhu’:
Sebelum tasawuf menjadi disiplin ilmu yang kompleks, para zahid (ahli zuhud) abad pertama dan kedua Hijriyah telah menunjukkan “karomah” melalui kehidupan sehari-hari mereka.
Guru spiritual dari Basrah ini dikenal dengan nasihat-nasihatnya yang menyentuh hati. Suatu kali, seorang pemuda datang membanggakan amal ibadahnya.
Hasan al-Bashri hanya berkata: “Wahai anakku, jika kau bisa masuk dari pintu tanpa menyombongkan diri, itu lebih baik daripada seribu shalat sunnah dengan rasa ujub.”
Karomahnya? Kemampuan melihat cacat hati sendiri sebelum mengoreksi orang lain.
Perempuan sufi dari Basrah ini mengubah paradigma tasawuf dari “takut kepada neraka” menjadi “cinta kepada Allah”.
Meski hidup miskin, ia menolak segala bantuan yang bisa mengurangi ketergantungannya hanya kepada Allah.
Suatu malam, seorang pemuda menyaksikan Rabi’ah berdoa sambil memegang obor di satu tangan dan gayung air di tangan lain.
Ketika ditanya, ia menjawab: “Aku ingin membakar surga dan memadamkan neraka, agar tak ada lagi yang menyembah Allah karena menginginkan surga atau takut neraka, tetapi hanya karena cinta kepada-Nya.”
Karomah Rabi’ah adalah kemurnian cinta tanpa pamrih — sesuatu yang langka bahkan di kalangan ahli ibadah.
Sahabat Nabi ini dikenal sebagai “protes hidup” terhadap kemewahan Bani Umayyah.
Meski bisa hidup mewah, ia memilih tinggal di pinggiran Madinah, mengenakan pakaian sederhana, dan mengkritik ketimpangan sosial.
Suatu hari, Khalifah Utsman bin Affan memberinya uang banyak. Abu Dzar membagi-bagikan semuanya sampai habis, lalu kembali hidup seperti biasa.
Ketika ditanya mengapa, ia berkata: “Apakah aku akan menjadikan dunia ini sebagai rumah tetap? Aku hanya perlu sebatas cukup.”
Karomah Abu Dzar adalah kekuatan untuk mengatakan “tidak” pada dunia, tanpa merasa lebih suci dari yang lain.
“Mereka adalah penganut aliran ahlus sunnah, tapi cenderung pada aliran-aliran mu’tazilah dan qadariyah. Tokoh mereka dalam zuhud adalah Hasan al-Bashri…” (hlm. 30)
Sumber: Liputan6