RAKYATDAILY.COM – Jenderal TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo mengungkapkan bahwa menteri-menteri warisan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) berpotensi menjadi bom waktu di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Gatot, ada dugaan sabotase struktural yang dilakukan oleh menteri-menteri titipan era lama di dalam kabinet saat ini.
“Semuanya karena apa semua dilakukan oleh menteri-menteri yang titipan dan kepala lembaga yang titipan akhirnya dibuat seperti ini kayak bom waktu sehingga terjadilah sabotase struktural sabotase struktural sabotase dilakukan dalam struktural kabinet sendiri,’ ungkapnya, dikutip dari YouTube Refly Harun, Kamis (4/6).
Gatot pun menyebutkan sejumlah kebijakan yang dinilainya sengaja dilempar ke publik untuk mengikis kepercayaan masyarakat terhadap Presiden Prabowo.
Menteri Keuangan sempat menaikkan PPN menjadi 12% yang berlaku Januari 2025. Namun pada 31 Desember 2024 Presiden membatalkan keputusan tersebut.
Presiden memerintahkan pagar laut dibongkar, tetapi Menteri Kelautan menolak. Akhirnya pagar tetap dibongkar setelah terjadi polemik.
Larangan penjualan gas melon 3 kg menimbulkan antrean panjang. Bahkan dilaporkan ada korban meninggal dunia akibat antrean tersebut. Presiden kemudian membatalkan kebijakan ini.
Publik heboh karena bensin oplosan merusak mesin kendaraan. Kepercayaan terhadap Pertamina menurun, masyarakat beralih ke SPBU lain.
Menpan RB menyampaikan penundaan pengangkatan pegawai, menimbulkan gejolak. Presiden akhirnya mempercepat pengangkatan.
Sebanyak 122 juta rekening diblokir. Publik menilai pemerintah merampas hak keuangan rakyat. Setelah Presiden turun tangan, rekening dibuka kembali.
Menteri Dalam Negeri menyerahkan 40 pulau ke Sumut, menimbulkan keributan. Presiden kemudian mengembalikan ke Aceh.
Menteri Pertanian Amran menyebut rakyat rugi Rp100 triliun akibat pupuk oplosan.
Pemerintah menyita tanah nganggur selama 2 tahun, sekitar 1,4 juta hektar. Kebijakan ini menimbulkan polemik, hingga Menteri ATR/BPN Wahid meminta maaf.
Gatot menegaskan bahwa rangkaian kebijakan tersebut bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bentuk sabotase struktural dari menteri-menteri lama yang masih menjabat.
Ia menilai hal ini berpotensi melemahkan pemerintahan dan menimbulkan krisis kepercayaan di masyarakat.
Sumber: WartaEkonomi