RAKYATDAILY.COM – Mantan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Ardianto Satriawan, menyoroti mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ardianto menghitung potensi uang negara yang dikorupsi Dadan.
Menurutnya, dalam satu hari nilainya bisa mencapai Rp1 miliar.
Jika dikalikan setahun, jumlahnya mencapai Rp76,65 triliun, dan selama masa jabatan Dadan 1 tahun 8 bulan, totalnya bisa menyentuh Rp138 triliun.
“Gila si Dadan korupsi 1 M sehari. Seminggu x 7 = 7 M. Sebulan x 30 = 210 M. Setahun x 365 = 76.65 T. Gilaaaaaaa. Udah gitu dia kan 1 tahun 8 bulan ya. 76.65 x 1.8 = 138 triliun. Edaaaaaaaaaannn,” tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Jumat (5/6).
👇👇
Gila si Dadan korupsi 1 M sehari.
Seminggu x 7 = 7 M
Sebulan x 30 = 210 M
Setahun x 365 = 76.65 TGilaaaaaaa.
Baca Juga:Udah gitu dia kan 1 tahun 8 bulan ya.
76.65 x 1.8 = 138 triliun.
Edaaaaaaaaaannn
— Ardianto Satriawan (@ardisatriawan) June 4, 2026
Sebelumnya, Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, menjelaskan bahwa Dadan bersama dua mantan wakilnya, Sony Sanjaya dan Lodewyk Pusung, sengaja memanipulasi sistem verifikasi portal mitra BGN.
Mereka meloloskan yayasan-yayasan milik sendiri untuk mengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga yayasan terafiliasi tersebut mengeruk dana insentif miliaran rupiah setiap hari secara melawan hukum.
Selain itu, penyelewengan dana juga dilakukan melalui markup pengadaan aset operasional yang tidak relevan dengan pemenuhan gizi anak.
Beberapa di antaranya meliputi pengadaan 21.801 unit motor listrik senilai Rp1 triliun, 32.000 pasang sepatu, 31.000 komputer tablet, hingga 5.400 unit televisi ukuran 75 inci.
Potensi kerugian total negara masih terus dihitung oleh auditor pemerintah.
Namun, ruang korupsi ini terbuka lebar karena pagu anggaran operasional dapur umum MBG di bawah kendali BGN memang luar biasa besar, yakni berkisar Rp900 miliar hingga Rp1,2 triliun per hari untuk disalurkan ke puluhan ribu titik di seluruh Indonesia.
Sumber: WE