Jagat Maya Membara! Baru Resmi Duduki Kursi Puncak BGN, Rekam Jejak Nanik S Deyang Langsung Dikuliti Habis Netizen

RAKYATDAILY.COM – Dunia politik dan birokrasi tanah air mendadak geger.

Presiden Prabowo Subianto resmi mengambil langkah tegas dengan memecat Dadan Hindayana dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

Keputusan radikal ini diambil setelah lembaga yang baru seumur jagung tersebut terus-menerus dihantam rapor merah.

Selama 17 bulan menakhodai BGN, kinerja ahli serangga ini dinilai out of control.

Mulai dari kasus keracunan massal yang menimpa 11.640 anak sekolah di puluhan daerah per November 2025, pembengkakan anggaran dari Rp71 triliun menjadi Rp171 triliun, hingga blunder pengadaan 25.000 motor listrik tanpa konsultasi dengan DPR.

Dadan Hindayana Dinilai “Mbalelo” dan Ugal-ugalan Eksekusi Program

Bukan cuma masalah manajemen internal dan temuan delapan potensi korupsi oleh KPK yang bikin posisi Dadan goyah.

Mantan orang nomor satu di BGN itu juga dinilai tidak mengindahkan instruksi langsung dari Kepala Negara.

Saat Presiden meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) difokuskan pada anak kurang gizi dan kelompok rentan, eksekusi di lapangan justru terkesan serampangan.

Bahkan, ide membagikan MBG ke sekolah Indonesia di Arab Saudi disebut-sebut menjadi pemantik utama yang mempercepat surat pemecatannya keluar beserta kroninya sekaligus.

Nanik S Deyang Naik Takhta, Publik Beri Sorotan Tajam

Keputusan Presiden Prabowo Subianto mendepak Dadan Hindayana dari posisi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sukses memicu efek domino di jagat media sosial.

Alih-alih meredam suasana, penunjukan Nanik S Deyang sebagai nakhoda baru lembaga yang mengurus program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini justru memantik perdebatan yang makin liar di kalangan netizen X (Twitter).

Banyak warganet yang mulai mempertanyakan arah kebijakan program andalan pemerintah ini ke depan.

Isu kompetensi versus loyalitas politik pun kembali mencuat ke permukaan dan menjadi topik hangat yang ramai diperbincangkan.

Bongkar Riwayat Kontroversi dari 2018 hingga Kasus Keracunan 2025

Akun-akun kritis di platform X langsung gercep menguliti rekam jejak digital Nanik S. Deyang selama beberapa tahun terakhir.

Salah satu yang menjadi sorotan tajam adalah keterlibatan masa lalunya dalam kasus hoaks yang sempat menggemparkan satu Indonesia pada tahun 2018 silam.

Nggak cuma drama politik masa lalu, performa Nanik saat menjabat sebagai Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik & Investigasi juga ikut diungkit.

Netizen mengingatkan kembali momen emosional pada September 2025 lalu, ketika Nanik sempat terekam kamera menangis saat meminta maaf di hadapan publik terkait insiden keracunan massal program MBG yang menimpa ribuan anak sekolah.

Kritik Pedas Soal Kompetensi dan Keamanan Pangan Anak

Ketiadaan latar belakang akademis maupun praktis di bidang kesehatan menjadi peluru utama netizen untuk mengkritik kebijakan perombakan ini.

Pemerintah dinilai lebih mengutamakan kedekatan politik jangka panjang ketimbang menempatkan sosok ahli yang paham betul tentang nutrisi.

“Latar belakang gizi? Nol. Keamanan pangan? Nol. Yang ada: loyalitas politik sejak 2018. Ini bukan soal kompetensi vs loyalitas lagi. Ini soal siapa yang dipercaya ngurus makanan anak-anak lo.” cuit salah satu netizen kritis di X.

Meski begitu, sebagian pihak menilai Nanik tetap layak diberi kesempatan untuk bersih-bersih internal pasca-lengsernya Dadan.

Tokoh publik seperti Ferry Koto justru mengapresiasi langkah tegas Presiden sebagai bentuk respons atas kritik masyarakat.

Ferry menganggap keputusan memilih Nanik sudah tepat karena ia dikenal sebagai sosok loyalis yang bersungguh-sungguh saat diberi amanah.

Meski diakuinya Nanik agak sulit menerima kritik di media sosial, ia disebut tetap menyimak masukan publik demi perbaikan ke depan.

“Langkah Presiden Prabowo memecat Dadan sebagai Kepala BGN dan menggantinya dengan Nanik Deyang, patut kita apresiasi. Ini bagian respon Presiden atas kritik publik dan berbagai laporan tentang berbagai masalah di lingkungan BGN selama ini.”

Sumber: Konteks

Artikel Terkait