RAKYATDAILY.COM — Dinamika politik nasional menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menghangat.
Popularitas dan tingkat elektabilitas Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), dinilai menunjukkan pola unik yang sangat mirip dengan fenomena meroketnya Joko Widodo (Jokowi) menjelang Pilpres 2014 silam.
Penilaian tersebut diungkapkan oleh Pemerhati Politik sekaligus Alumni Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Iwan “Terpal” Setiawan.
Ia mencermati adanya momentum politik langka ketika daya pikat seorang figur mampu tumbuh secara organik dan melampaui kekuatan mesin partai politik formal.
“Politik Indonesia berulang kali menghadirkan figur yang memperoleh momentum politik karena kedekatan dengan masyarakat. Fenomena seperti itu pernah terjadi pada Jokowi menjelang Pilpres 2014, dan saat ini sejumlah gejalanya mulai terlihat pada Kang Dedi Mulyadi,” ungkap Iwan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/7/2026).
Iwan mengenang bagaimana pada kurun waktu 2013 hingga awal 2014, Jokowi mendominasi panggung media nasional lewat gaya kepemimpinan blusukan, komunikasi polos, serta sokongan masif relawan sukarela.
Pola serupa kini dinilai tengah direplikasi oleh KDM lewat sentuhan kepemimpinan di Jawa Barat.
Aktivitas KDM di lapangan yang dikemas apik melalui platform media sosial dinilai sukses memicu engagement luar biasa dari jutaan warganet.
“Dalam era digital, algoritma media sosial membuat penyebaran pesan politik berlangsung lebih cepat ketika memperoleh respons tinggi dari masyarakat. Kondisi itu memberikan keuntungan tersendiri bagi figur yang memiliki kedekatan dengan publik,” paparnya.
Uniknya, dukungan terhadap mantan Bupati Purwakarta ini tidak hanya bergaung di alam maya.
Di tingkat akar rumput, fenomena kemunculan stiker dan gambar wajah KDM yang dipasang secara sukarela di angkutan umum, truk antar-kota, hingga kendaraan pribadi mulai menjamur di pelbagai daerah—meniru persis gelombang spionase dukungan spontan rakyat kepada Jokowi satu dekade lalu.
Di samping gelombang dukungan massa, Iwan juga menyinggung kehebohan ruang publik terkait desas-desus hasil lembaga survei yang menempatkan simulasi elektabilitas KDM di atas Presiden Prabowo Subianto.
Kendati mengakui data tersebut belum dirilis secara resmi dan masih memerlukan verifikasi independen, munculnya klaim itu membuktikan betapa besarnya perhatian publik terhadap KDM.
“Terlepas dari benar atau tidaknya informasi tersebut, isu itu sendiri sudah menjadi bahan diskusi di ruang publik dan menunjukkan tingginya perhatian terhadap Kang Dedi Mulyadi,” ujar Iwan.
Meski demikian, Iwan memberikan catatan kritis bahwa popularitas dan modal elektoral semata tidak otomatis menjadi jaminan tiket kemenangan dalam gelaran Pilpres.
Pertarungan level nasional masih sangat bergantung pada kalkulasi koalisi, kendaraan partai politik, jaringan logistik, hingga efektivitas mesin pemenangan.
“Popularitas hanyalah salah satu modal. Untuk menjadi kandidat yang kompetitif pada Pilpres 2029, masih diperlukan dukungan politik yang kuat serta kemampuan membangun koalisi nasional. Apakah sejarah akan kembali berulang dalam bentuk yang berbeda tentu masih harus dibuktikan,” pukasnya menutup analisis.