Kritik Pedas Budayawan Mohamad Sobary: Buku ‘Islam Ala Prabowo’ Dosa Besar & Pelacuran Intelektual!

RAKYATDAILY.COM — Budayawan sekaligus pakar komunikasi politik, Mohamad Sobary, mencetuskan kritik menohok terhadap penerbitan buku berjudul “Islam ala Prabowo”.

Sobary secara terbuka menilai upaya mengaitkan Presiden Prabowo Subianto dengan corak atau otoritas keislaman tertentu merupakan tindakan berlebihan yang tidak memiliki dasar ilmiah, serta justru rentan merusak citra politik sang Presiden.

Sobary memaklumi bahwa dari kacamata kalkulasi kekuasaan, persetujuan awal dari pihak Prabowo atas penulisan buku tersebut mungkin didasari motif perluasan postur politik.

Namun, ia menegaskan bahwa keuntungan politik yang didapat jauh lebih kecil dibandingkan dengan efek merusak (mudarat) yang ditimbulkannya.

“Dulu Prabowo diberitahu, ‘Pak, kami akan menulis ini untuk kepentingan Bapak.’ Ya, dia setuju itu ya pastilah. Pastilah setuju karena itu kepentingan politik. Keuntungannya bagi Prabowo hanya sedikit dan lebih banyak mudaratnya,” lugas Sobary.

Tuding Pelacuran Intelektual dan Tindakan SerampanganMenurut Sobary, letak persoalan utama dari buku tersebut adalah keberanian penulisnya dalam menempatkan Prabowo pada posisi keagamaan yang sangat tinggi melebihi batas kewajaran.

Langkah mendongkrak figur secara dipaksakan lewat simbolisme agama ia sebut sebagai bentuk manuver politik yang fatal.

“Penulisnya mengatakan bahwa inilah Islam ala Prabowo sekalipun itu dosa besar. Oke, itu dosa besar, suatu pelacuran intelektual. Prabowo tidak bisa diberi tempat sedemikian tinggi menjadi sesuatu yang berkaitan dengan Islam melebihi batas dan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan sama sekali,” cetusnya.

Ia mendesak agar konstruksi nama dan pengaruh politik Prabowo dibangun melalui kinerja serta kerja riil sebagai kepala negara, bukan dengan mengeksploitasi entitas agama.

“Ini usaha fatal karena memberi suatu tempat kepada Prabowo yang bukan tempatnya. Cita-citanya cuma mengangkat Prabowo, tapi mengangkat secara serampangan. Ya, memberi nama Prabowo supaya memiliki postur yang lebih luas lagi. Tapi jangan lewat Islam,” timpalnya lagi.

Prabowo Dinilai Bakal Bingung MeresponsLebih jauh, Sobary menganalisis bahwa hadirnya narasi keislaman yang dipaksakan ini justru berpotensi menyudutkan Prabowo sendiri di hadapan publik luas.

Menurutnya, Prabowo akan berada dalam posisi canggung dan sulit untuk menentukan sikap resmi terhadap klaim-klaim dalam buku itu.

“Reaksi yang terbaik bagi Prabowo terhadap buku ini apa? Prabowo tidak akan tahu bagaimana memuji buku ini,” kata Sobary menyoroti kebingungan posisi sang Presiden.

Mengakhiri argumentasinya, Sobary menegaskan bahwa sosok Presiden Prabowo tidak semestinya diposisikan atau diklaim sebagai representasi dari identitas keislaman tertentu.

“Prabowo is nothing to do with Islam,” tegas Sobary memungkas kritiknya.

[VIDEO]

Artikel Terkait