RAKYATDAILY.COM — Kritik pedas nan menohok kembali mengguncang panggung politik nasional.
Budayawan senior Mohamad Sobary melontarkan penilaian sangat keras terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam analisisnya yang tajam, Sobary menilai Gibran sama sekali tidak memiliki sikap independen sebagai pendamping Presiden Prabowo Subianto, bahkan menyebut sang wapres mengalami “kekosongan” secara pemikiran maupun jiwa.
Tak tanggung-tanggung, Sobary secara gamblang menjuluki putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu sebagai “boneka”.
Menurutnya, Gibran tidak benar-benar menjalankan peran dan fungsi strategis sebagai wakil kepala negara, melainkan sekadar instrumen politik yang digerakkan.
“Gibran kan enggak punya sikap. Orang boleh menganggap dia punya sikap. Enggak, dia enggak punya sikap. Dia itu boneka, Bung. Kalau disebutkan orang boneka, ini bonekanya si anu… ini orangnya si anu, ini boneka si anu,” pungkas Sobary dengan nada tegas saat hadir di Forum Keadilan TV, dikutip Sabtu (25/7).
Sobary menambahkan, ketiadaan independensi tersebut berakar dari kondisi internal kepemimpinan yang ia nilai memprihatinkan.
“Dia boneka, betul. Karena kosong. Jiwanya lebih kosong lagi. Kalau otaknya kosong, jiwanya lebih kosong. Jadi dia bukan menjadi… sekali lagi, dia itu benda yang dijadikan,” cetusnya menambahkan.
Pernyataan tajam Sobary ini mencuat di tengah riuh spekulasi publik terkait dugaan dinamika hubungan politik di lingkaran istana.
Isu ini makin berembus kencang setelah muncul sorotan mengenai tata letak posisi duduk Gibran dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara, Senin (20/7/2026).
Saat itu, posisi duduk Gibran disorot karena dianggap tidak sejajar persis di samping Presiden Prabowo Subianto, melainkan berada di barisan yang sejajar dengan para Menteri Koordinator (Menko).
Spekulasi pun merebak, menuding adanya skenario atau arahan tertentu dari Jokowi di balik gestur politik tersebut.
[FULL VIDEO]
Menanggapi liarnya bola panas rumor keretakan politik di tingkat pucuk pimpinan, pihak Istana bergerak cepat memberikan klarifikasi resmi.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi membantah keras anggapan adanya keretakan politik maupun “pengkerdilan” peran Wakil Presiden.
Prasetyo menegaskan bahwa perubahan tata letak tempat duduk dalam rapat kabinet tersebut murni didasari alasan teknis dan efisiensi operasional di lapangan.
“Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan, Bapak Presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari Bapak Wakil Presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan,” ujar Prasetyo meluruskan.
Meskipun Istana telah berupaya menepis spekulasi lewat alasan teknis, sorotan kritis dari para pengamat dan budayawan seperti Mohamad Sobary menandakan bahwa dinamika serta gestur politik di jajaran kepemimpinan nasional akan terus menjadi panggung panas yang diamati publik secara cermat.