Pengakuan Blak-Blakan Mantan Wakil Menteri: Pernah Dimarahi Prabowo di Apartemen Dharmawangsa, Waduh Ngeri!

RAKYATDAILY.COM – Mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM, Prof. Denny Indrayana, kembali melayangkan surat terbuka yang ditujukan secara khusus kepada Presiden Prabowo Subianto.

Dengan gaya penyampaian yang tajam namun diselingi nada khas, Denny membongkar kekhawatirannya seputar potensi penyensoran informasi di lingkar dalam Istana yang dinilai membahayakan arah kebijakan negara.

Surat terbuka tersebut diawali Denny dengan salam hangat sekaligus pengantar mengenai alasan mengapa dirinya memilih ruang publik sebagai medium komunikasi alih-alih jalur pribadi.

“Selamat pagi Bapak Presiden Prabowo. Semoga sehat selalu. Lama juga kita tidak berjumpa. Izinkan saya mengirimkan surat ini melalui ruang publik. Saya tidak kirim langsung secara pribadi, karena khawatir tidak akan sampai,” buka Denny, dikutip Sabtu (25/7/2026).

Denny mengaku pesimis suratnya bisa menembus meja kerja presiden tanpa hambatan.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar seorang kepala negara adalah tertutupnya akses terhadap informasi yang murni apa adanya akibat saringan berlapis dari orang-orang di sekelilingnya.

Ia menilai, gaya kerja Istana memang selalu mengalami evolusi dari masa ke masa, namun ada satu hal yang diyakininya tidak pernah berubah: upaya sistematis untuk menyaring siapa saja tamu presiden serta membatasi arus informasi yang layak sampai ke hadapan kepala negara.

“Sensor informasi itu yang berbahaya. Kebenaran informasi yang disensor bisa mudah tergelincir menjadi informasi yang dimanipulasi. Padahal, informasi yang diolah, berisiko membuat Presiden membuat keputusan yang salah,” tegasnya memperingatkan.

Sentil Isu Data Ekonomi hingga Peringatan Soal Statistik yang “Dikorupsi”

Sebagai contoh konkret, Denny secara khusus menyoroti laporan angka-angka pertumbuhan ekonomi serta indikator vital lainnya yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Ia meminta Presiden Prabowo untuk secara mandiri melakukan verifikasi ketat dan meminta data yang benar-benar riil tanpa polesan.

“Misalnya, pertumbuhan ekonomi dan angka-angka penting lainnya menurut BPS. Tolong dicek betul Pak, mintalah data sebenarnya,” tulisnya.

“Lebih baik Bapak tahu angka sebenarnya, meskipun pahit, daripada disodori data yang salah, apalagi diolah. Kalau statistik yang ilmu pasti saja angkanya dikorupsi, maka yakinlah Republik akan menuju arah kebijakan yang keliru,” sambung Denny tajam.

Selipkan Sentilan Khas: Ingat Pengalaman Dimarahi Mantan Danjen Kopassus!

Menutup surat terbukanya, Guru Besar Hukum Tata Negara itu menyisipkan pesan jenaka sekaligus menyentil mentalitas para pembantu presiden di ring satu yang kerap takut menyampaikan kebenaran pahit kepada atasannya.

Ia menduga ketakutan para anak buah tersebut berakar dari watak tegas sang kepala negara.

“Membacanya jangan sambil marah lho Pak. Karena saya duga, itulah juga yang menyebabkan orang di sekeliling Bapak tidak berani menyampaikan data dan fakta yang sebenarnya,” sindirnya.

Sebagai penutup yang mengundang senyum, Denny bahkan mengenang kembali momen masa lalu ketika dirinya pernah ditegur keras oleh Prabowo secara langsung.

“Ingat, saya pernah dimarahin Bapak, di apartemen Dharmawangsa. Waduh ngeri Pak! Dimarahin mantan Danjen Kopassus. Apalagi, sekarang sudah jadi Presiden. Pasti lebih ngeri lagi,” tandasnya menutup surat terbuka tersebut.

Artikel Terkait