RAKYATDAILY.COM – Joko Widodo (Jokowi) kembali turun ke gelanggang politik.
Kali ini bukan sebagai presiden, melainkan juru kampanye Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang kini dipimpin putranya, Kaesang Pangarep.
Ia bahkan menyatakan siap blusukan dari provinsi hingga kecamatan demi mendongkrak suara PSI.
Masalahnya, ketika Jokowi masih duduk di Istana saja, PSI tetap gagal menembus Senayan. Kini, setelah pensiun, Jokowi justru ingin bekerja mati-matian.
Seberapa besar efeknya?
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menyebut langkah Jokowi itu wajar secara personal, tapi tipis secara elektoral.
“Kesiapan Jokowi mengkampanyekan PSI masuk akal karena ia bagian dari PSI, sebagai ayah dari ketua umum, tentu hal wajar jika ia juga bekerja keras,” ujar Dedi saat dihubungi di Jakarta, dikutip Senin (2/2/2026).
Dilihat dari rekam jejak, Dedi mengingatkan, Jokowi tak pernah benar-benar menjadi mesin kemenangan PSI.
“Meskipun, tidak banyak dampak yang dihasilkan Jokowi, saat ia menjabat sebagai Presiden sekalipun tidak berhasil membawa PSI ke pintu kemenangan, terlebih saat ini ketika ia tidak lagi berkuasa,” jelasnya.
Dia bilang, dukungan Jokowi saat ini justru datang ketika daya tawarnya sudah menurun.
Tanpa akses kekuasaan, Jokowi yang bakal mengandalkan popularitas personal belum tentu cukup untuk mengatrol PSI.
Meski begitu, Dedi menepis spekulasi soal keterkaitan sikap Jokowi dengan langkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang sempat membentuk tim di luar tim reformasi Polri bentukan Presiden Prabowo Subianto.
“Kecuali memang, jika Listyo Sigit masih dikuasai Jokowi dan membantu PSI, tetapi rasanya itu sulit terjadi. Secara politik tidak ada kaitan dengan perlawanan Listyo Sigit pada tim reformasi Polri,” ungkap Dedi.
Sumber: Inilah