RAKYATDAILY.COM – Jika selama ini keramaian identik dengan stadion sepak bola atau konser musik, pemandangan berbeda justru terlihat di sejumlah pesantren besar di Indonesia.
Bukan sorak-sorai penonton, melainkan lautan sarung, kitab kuning, dan suara lantunan ayat suci yang memenuhi udara.
Indonesia memiliki beberapa pesantren dengan jumlah santri yang tidak main-main. Bukan sekadar ribuan, tetapi puluhan ribu.
Berdiri sejak 1910 oleh KH Abdul Karim, Lirboyo dikenal sebagai salah satu pesantren salaf terbesar di Indonesia.
Jumlah santrinya disebut menembus angka lebih dari 40 ribu orang dalam berbagai unit pendidikan di bawah naungannya.
Suasana khas pesantren tradisional begitu terasa. Kitab kuning menjadi pusat pembelajaran, sementara ritme pengajian berjalan hampir tanpa henti dari pagi hingga malam.
Pesantren ini dikenal dengan sistem pendidikan modern dan disiplin yang ketat.
Jumlah santrinya diperkirakan mencapai lebih dari 30 ribu orang yang tersebar di berbagai cabang di Indonesia.
Bahasa Arab dan Inggris digunakan dalam percakapan sehari-hari, mencerminkan visi global yang diusung Gontor.
Berdiri sejak abad ke-18, Sidogiri termasuk pesantren tertua yang masih eksis hingga kini. Santrinya mencapai lebih dari 20 ribu orang.
Selain pendidikan agama yang kuat, Sidogiri juga dikenal memiliki sistem ekonomi pesantren yang mandiri melalui koperasi dan berbagai unit usaha.
Pesantren ini memiliki jumlah santri belasan hingga puluhan ribu dalam berbagai unitnya. Tradisi pengajian fikih menjadi salah satu kekuatan utama.
Pemandangan ribuan santri duduk rapat mengikuti majelis ilmu menjadi gambaran yang kerap ditemui di sana.
Didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, pesantren ini memiliki jejak sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Indonesia.
Jumlah santrinya mencapai belasan ribu dengan sistem pendidikan yang memadukan tradisi pesantren dan pendidikan formal.
Deretan pesantren tersebut menunjukkan bahwa di tengah era digital dan modernisasi, pendidikan berbasis tradisi tetap memiliki daya tarik kuat.
Ribuan orang tua masih mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada lembaga yang menanamkan ilmu agama sekaligus karakter.
Keramaian di pesantren-pesantren besar ini bukan sekadar soal angka, tetapi tentang semangat belajar dan keberlanjutan tradisi yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Sumber: PojokSatu