Muhammadiyah Siap Buka Bab Baru, Kripto dan Blockchain Mulai Dikaji Mendalam!

RAKYATDAILY.COM – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mulai melakukan kajian mendalam terhadap perkembangan teknologi digital, khususnya kripto dan blockchain.

Langkah ini menandai keseriusan Muhammadiyah dalam merespons perubahan zaman tanpa terjebak pada sikap ekstrem, baik menolak mentah-mentah maupun menerima tanpa kritik.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Mohammad Bekti Hendrie Anto, menegaskan bahwa kripto dan blockchain bukan sekadar tren sesaat.

Melainkan bagian dari perubahan sejarah peradaban manusia.

Oleh karena itu, Muhammadiyah merasa perlu hadir memberikan panduan keagamaan yang jernih dan bertanggung jawab bagi umat.

Bekti mengatakan, Blockchain dan kripto ini adalah fenomena sejarah. Kita tidak bisa tergesa-gesa mengharamkan, tapi juga tidak boleh latah membenarkan.

“Muhammadiyah harus hadir memberi pandangan yang objektif dan proporsional,” ujar Bekti, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, 21 Desember 2025

Menurutnya, pendekatan Tarjih harus berbasis kajian ilmiah, pemahaman teknologi, serta pertimbangan maslahat dan mafsadat.

Ia menilai diskursus kripto tidak bisa disederhanakan hanya pada fluktuasi harga atau spekulasi, melainkan harus dilihat sebagai ekosistem teknologi dan ekonomi baru.

Pandangan senada disampaikan akademisi Universitas Gadjah Mada, Noor Akhmad Setiawan.

Ia menilai teknologi blockchain justru memiliki nilai filosofis yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, khususnya maqashid syariah.

Sistem blockchain yang terdesentralisasi dinilai mampu mendorong transparansi, kejujuran, dan keadilan dalam pengelolaan data maupun transaksi.

“Blockchain itu netral. Ia bisa menjadi alat kebaikan atau keburukan, tergantung siapa yang menggunakan dan untuk apa.

Dari sisi hifz al-mal, menjaga harta, justru ada potensi besar jika dikelola dengan benar,” jelas Noor.

Ia juga menyoroti pergeseran kepercayaan publik dari institusi terpusat menuju sistem terdesentralisasi sebagai fenomena global yang tidak terelakkan.

Dalam konteks ini, Noor menilai Muhammadiyah berpotensi menjadi pelopor pemanfaatan blockchain untuk kepentingan sosial, pendidikan, filantropi, hingga tata kelola transparan.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Mochammad Tanzil Multazam, mengingatkan publik agar tidak terjebak pada narasi sempit kripto sebagai instrumen spekulasi semata.

Menurutnya, memahami kripto harus dimulai dari teknologi dasarnya, manfaat riil, hingga implikasi hukum dan etikanya.

“Selama ini orang hanya melihat naik-turun harga. Padahal yang jauh lebih penting adalah memahami teknologinya, use case-nya, dan dampaknya bagi masyarakat,” ujar Tanzil.

Ia menambahkan, blockchain memiliki potensi besar jika dimanfaatkan secara kolektif dan produktif, bukan sekadar untuk mencari keuntungan instan.

Pemanfaatan yang tepat justru dapat membuka peluang ekonomi baru yang lebih inklusif dan adil.

Kajian yang dilakukan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini menegaskan bahwa isu kripto dan blockchain tidak bisa dipandang hitam-putih.

Pendekatan keagamaan yang matang, berbasis ilmu pengetahuan dan realitas sosial, dinilai menjadi kunci agar umat tidak tersesat di tengah derasnya arus transformasi digital.

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY