RAKYATDAILY.COM – Nilai tukar rupiah belakangan kembali tertekan ke level psikologis mendekati Rp17.000 per dolar AS, memicu kekhawatiran pelaku pasar dan masyarakat luas.
Pelemahan tajam ini terjadi menyusul merebaknya kabar bahwa Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono akan menempati posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk menggantikan salah satu pejabat senior BI yang mengundurkan diri.
Isu sentral yang membuat pasar bereaksi negatif adalah spekulasi soal independensi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter negara.
Rupiah yang selama ini relatif stabil di bawah Rp17.000/US Dollar kembali merosot dan sempat diperdagangkan hampir di angka Rp16.985–16.997 per dolar AS, menandakan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter ke depan.
Menurut pengamat ekonomi yang dikutip media, sentimen politik dipercaya ikut memperburuk tekanan mata uang domestik.
Mereka mengatakan pasar melihat kemungkinan penempatan tokoh politik di posisi strategis bank sentral sebagai potensi intervensi kebijakan moneter yang melampaui batas kewajaran lembaga independen.
Bank Indonesia selama ini dikenal menjalankan kebijakan yang bebas dari tekanan politik, dengan fokus pada stabilitas moneter, pengendalian inflasi, dan pemberian sinyal yang kredibel kepada pelaku pasar.
Namun, langkah pemerintah mengajukan nama Wamenkeu untuk masuk ke jajaran Dewan Gubernur BI menuai kritik dari sebagian pelaku pasar yang menilai langkah tersebut bisa melemahkan kredibilitas bank sentral.
Meski demikian, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa independensi Bank Indonesia tetap terjaga meskipun ada rotasi pejabat antara pemerintahan dan otoritas moneter.
Menkeu menampik bahwa isu tersebut menjadi penyebab utama pelemahan rupiah dan menyatakan bahwa pergerakan kurs lebih didorong oleh faktor fundamental ekonomi.
Purbaya juga menyoroti bahwa kekuatan rupiah akan kembali pulih seiring data ekonomi domestik yang relatif solid, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatat rekor tertinggi baru.
Hal ini menurutnya menunjukkan bahwa fundamental ekonomi masih mendukung stabilitas mata uang Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun turut memberikan respons, mendorong institusi perbankan melakukan stress test lebih ketat guna mengantisipasi volatilitas nilai tukar dan menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
Sementara itu, Bank Indonesia sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi panjang terkait isu tersebut.
BI hanya membenarkan pengunduran diri pejabat senior BI dan proses pengisian gantiannya sedang berjalan melalui mekanisme yang berlaku di DPR RI.
Kekhawatiran pasar ini juga dipengaruhi oleh dinamika global, seperti geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat yang terus menjadi faktor penentu arah aliran modal dan nilai tukar mata uang negara berkembang.
Tekanan global ini turut memperbesar volatilitas kurs rupiah.
Analisis pasar menyatakan bahwa meskipun sentimen negatif masih membayangi, fundamental ekonomi Indonesia yang kuat serta langkah koordinasi antara pemerintah dan BI.
Khususnya melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dapat menjadi penopang untuk mengembalikan kepercayaan investor.
Di tengah berbagai dinamika, pemerintah dan regulator tetap berupaya menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh.
Tentunya sambil merespons dengan langkah kebijakan yang tepat agar nilai tukar rupiah tidak melampaui level psikologis yang lebih jauh, serta memastikan independensi BI tetap terjaga.
Sumber: PojokSatu