RAKYATDAILY.COM – Penggunaan citra satelit komersial China di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran di Amerika Serikat di tengah konflik yang melibatkan Iran.
Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari, data dan analisis satelit dari pihak China semakin banyak beredar.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk melacak pergerakan militer AS di lapangan.
Dilansir The Wall Street Journal, Kamis (23/4/2026), kekhawatiran Washington meningkat setelah perusahaan kecerdasan buatan asal China, MizarVision, mengeklaim mampu melacak pergerakan aset militer AS menggunakan analisis data satelit.
Dalam unggahan media sosialnya, perusahaan itu menyebut dapat memantau kapal induk, jet tempur F-22, hingga bomber B-52.
Selain itu, perusahaan tersebut mengunggah peta yang menggambarkan pergerakan pesawat militer AS dari pangkalan di Inggris menuju kawasan Mediterania serta aktivitas di sekitar Teluk Persia dan Arab Saudi.
Meski demikian, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Kekhawatiran di Washington tidak hanya didasarkan pada klaim perusahaan tersebut, tetapi juga pada potensi penggunaan data satelit komersial oleh pihak lawan.
Politisi AS memperingatkan bahwa data semacam ini, terlepas dari asalnya, dapat membantu pasukan Iran dalam mengidentifikasi target militer.
Ketua House Select Committee on China, Rep. John Moolenaar, bahkan mengirim surat kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menyoroti risiko tersebut.
Dalam suratnya, ia menulis, “Potensi citra satelit komersial yang dimanfaatkan China untuk memungkinkan penargetan pasukan AS dan menyebabkan hilangnya nyawa warga Amerika merupakan ancaman mendesak.”
Ia juga meminta jaminan dari Pentagon bahwa perusahaan Eropa Airbus tidak lagi menyediakan citra satelit yang dapat membahayakan pasukan AS.
Menurut penilaian Pentagon yang dirilis pada Desember, perusahaan satelit komersial berbasis di China diketahui pernah melakukan pertukaran bisnis dengan Korps Garda Revolusi Iran.
Namun, tidak dijelaskan lebih lanjut apakah dan bagaimana Iran menggunakan data tersebut dalam operasi militernya.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah operator satelit Amerika memutuskan untuk menahan publikasi citra wilayah konflik tanpa batas waktu atas permintaan pemerintah AS.
Di sisi lain, perusahaan China tidak terikat pembatasan serupa.
Bill Greer, salah satu pendiri organisasi nirlaba layanan satelit Common Space, mengatakan, “AS menahan tanpa batas citra komersial atas Iran, tetapi perusahaan China tidak memiliki pembatasan yang sama.”
Ia menambahkan, “Jadi Iran tetap mendapatkan data yang mereka butuhkan, sementara publik justru tidak.”
Greer juga memperingatkan risiko manipulasi informasi. “Kita juga perlu khawatir tentang rilis selektif citra dari kedua belah pihak,” ujarnya.
“Citra satelit biasanya sangat dipercaya dan dapat diverifikasi, tetapi rilis selektif dapat menyajikan cerita yang tidak akurat, atau hanya sebagian dari cerita, dari media yang sangat dipercaya.”
China saat ini memiliki lebih dari 640 satelit penginderaan jauh komersial di orbit dan terus mengembangkan kapasitasnya.
Satelit-satelit ini menggunakan berbagai teknologi, termasuk sensor optik, inframerah, radar, dan gelombang radio untuk mengumpulkan data.
Perusahaan Chang Guang Satellite Technology, misalnya, mengoperasikan konstelasi satelit Jilin-1 dengan lebih dari 150 satelit dan berencana memperluasnya hingga 300 unit.
Perusahaan tersebut menyatakan ingin mengembangkan kemampuan untuk menghasilkan citra lokasi mana pun di dunia dalam waktu 10 menit.
Kemampuan serupa juga dikembangkan oleh Zhuhai Aerospace Microchips Science & Technology, yang menargetkan frekuensi pengambilan ulang gambar lebih dari delapan kali sehari di setiap lokasi.
Menurut laporan perusahaan konsultan OTH Intelligence Group pada 2024, peningkatan kemampuan ini membuat militer China “kini lebih mampu menemukan, melacak, dan menargetkan aset AS, termasuk platform bergerak seperti kapal angkatan laut.”
Laporan itu menambahkan, “Akan semakin sulit bagi Amerika Serikat untuk menyembunyikan, memindahkan, atau mengerahkan peralatan tanpa terdeteksi.”
Sumber: Kompas