RAKYATDAILY.COM – Gelombang kematian misterius ilmuwan di China disebut mirip dengan kasus serupa yang terjadi di Amerika Serikat.
Sejumlah pakar di bidang strategis seperti kecerdasan buatan militer, hipersonik, hingga pertahanan ruang angkasa dilaporkan meninggal dalam kondisi tidak biasa.
Meski belum ada bukti keterkaitan langsung, muncul spekulasi tentang kemungkinan “perang senyap” yang menargetkan para ilmuwan.
Salah satu kasus yang paling disorot, seperti dilansir Newsweek, Selasa (23/4/2026), adalah kematian Feng Yanghe, profesor di National University of Defense Technology, yang meninggal dalam kecelakaan mobil pada 1 Juli 2023 di Beijing pada usia 38 tahun.
Feng dikenal sebagai sosok penting di sektor kecerdasan buatan militer China, termasuk dalam pengembangan simulasi skenario invasi Taiwan melalui platform “War Skull”.
Sejumlah kejanggalan muncul setelah kematiannya. Obituari di situs Sciencenet.cn menyebut Feng “dikorbankan saat menjalankan tugas resmi,” bukan sekadar meninggal akibat kecelakaan.
Ia juga dimakamkan di kompleks pemakaman elite Babaoshan di Beijing, yang biasanya diperuntukkan bagi tokoh Partai Komunis, pahlawan negara, dan martir revolusi.
Seorang peneliti militer China di lembaga pemikir Barat, yang meminta identitasnya dirahasiakan, menyebut situasi ini tidak biasa.
“Feng adalah otak di balik simulasi AI untuk skenario Taiwan dan sangat aneh kecelakaan itu terjadi di tengah malam,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Seseorang yang tewas dalam kecelakaan mobil biasanya tidak disebut ‘mengorbankan nyawanya’.”
Menurutnya, pemakaman Feng di Babaoshan juga “sangat tidak lazim”.
Feng bukan satu-satunya. Setidaknya sembilan ilmuwan China dilaporkan meninggal secara mendadak atau misterius dalam beberapa tahun terakhir, dengan usia antara 26 hingga 68 tahun.
Penyebab kematian beragam, mulai dari kecelakaan lalu lintas, penyakit mendadak, hingga tanpa penjelasan resmi.
Beberapa di antaranya adalah Zhang Xiaoxin (62), pakar meteorologi satelit yang meninggal dalam kecelakaan mobil pada Desember 2024; Chen Shuming (57), ahli mikroelektronika militer yang tewas dalam kecelakaan pada 2018; serta Zhou Guangyuan (51), kimiawan ternama yang meninggal pada 2023 tanpa penyebab yang diungkap.
Di bidang hipersonik, Fang Daining (68) dilaporkan meninggal setelah kondisi medis mendadak di Afrika Selatan, sementara Yan Hong (56) wafat akibat penyakit pada Maret lalu.
Selain itu, Zhang Daibing (47), pakar drone, dan Liu Donghao (51), ilmuwan data, juga meninggal dalam kondisi yang tidak dijelaskan secara rinci.
Peneliti anonim tersebut menilai bidang-bidang seperti hipersonik, AI militer, dan teknologi swarm sangat strategis.
“Teknologi ini bisa memberikan keunggulan besar. Jika beberapa otak paling cemerlang disingkirkan, dampaknya bisa menjadi efek jera,” ujarnya, meski ia mengakui sebagian kasus kemungkinan memang kecelakaan murni.
Media berbahasa China kerap menyoroti kematian para ilmuwan ini dengan nada curiga, menyebutnya sebagai kejadian “sangat tidak biasa”.
Spekulasi berkembang, terutama karena banyak dari ilmuwan tersebut pernah belajar atau bekerja di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat.
Namun hingga kini, tidak ada bukti kuat yang menghubungkan berbagai kasus tersebut dalam satu pola yang terorganisir.
Persaingan antara China dan Amerika Serikat dalam teknologi dan militer disebut semakin intens, bahkan dianggap sebagai bagian dari perubahan besar tatanan dunia.
Meski demikian, belum ada bukti bahwa negara-negara tersebut terlibat dalam pembunuhan ilmuwan.
Kedutaan Besar China di Washington menyatakan, tidak mengetahui situasi tersebut.
“Yang ingin kami tekankan adalah China selalu berkomitmen mempromosikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kerja sama dan kompetisi yang sehat,” kata juru bicara mereka.
Dari pihak Amerika Serikat, Gedung Putih juga belum memberikan komentar khusus terkait kasus di China.
Namun juru bicara Anna Kelly mengatakan, “Gedung Putih terus berkoordinasi lintas lembaga untuk menyelidiki peristiwa ini dan memberikan transparansi kepada publik Amerika. Kami tidak akan mendahului hasil penyelidikan.”
Di Amerika Serikat sendiri, setidaknya 11 ilmuwan dilaporkan hilang atau meninggal dalam kondisi mencurigakan, yang kini sedang diselidiki.
Anggota Kongres Eric Burlison bahkan menyebut kemungkinan adanya “operasi asing”.
Presiden Donald Trump menyebut fenomena ini sebagai “hal yang cukup serius”, meski berharap semua itu hanya kebetulan.
Secara historis, ilmuwan memang pernah menjadi target. Sejumlah ilmuwan nuklir Iran dilaporkan dibunuh dalam operasi yang diduga melibatkan Israel, sebagai upaya memperlambat program nuklir negara tersebut.
Beberapa lainnya juga tewas dalam serangan udara pada 2025.
Sumber: Kompas