RAKYATDAILY.COM – Penemuan perangkat pemantau bawah laut milik China di Selat Lombok memicu kekhawatiran baru di kalangan analis pertahanan maritim Australia.
Perangkat berbentuk torpedo sepanjang 3,7 meter itu ditemukan nelayan di perairan strategis antara Bali dan Lombok.
Itu merupakan jalur laut dalam yang selama ini menjadi lintasan penting kapal selam menuju Laut China Selatan tanpa harus muncul ke permukaan.
Para pakar menilai temuan tersebut bukan sekadar alat riset kelautan biasa, melainkan bagian dari ambisi besar Beijing membangun sistem pengawasan bawah laut raksasa bernama Transparent Ocean Program.
Analis strategi maritim Australia Jennifer Parker mengatakan China selama bertahun-tahun berusaha memperkuat kemampuan membaca aktivitas bawah laut, terutama untuk mendeteksi kapal selam lawan.
“China telah lama bekerja meningkatkan kesadaran domain bawah laut mereka, yakni kemampuan memahami apa yang terjadi di kolom air dan mendeteksi kapal selam,” ujarnya.

Menurut Parker, kemampuan perang bawah laut Amerika Serikat selama ini dianggap Beijing sebagai kelemahan strategis yang harus diimbangi.
Kekhawatiran itu semakin besar karena Selat Lombok merupakan salah satu jalur paling strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Selain menjadi penghubung Samudra Hindia dan Pasifik, jalur tersebut juga kerap digunakan kapal selam militer Australia dan Amerika Serikat.
Kepala Riset Strategic Analysis Australia Marcus Hellyer mengatakan China kini tak lagi sekadar fokus mempertahankan wilayah dekat negaranya.
Ia menyebut Beijing telah berubah menjadi “blue-water navy” atau kekuatan laut samudra yang mampu beroperasi jauh dari wilayah domestik.
“Itu berarti mereka membutuhkan informasi tentang domain bawah laut jauh dari rumah mereka,” kata Hellyer.
Ia menilai China kemungkinan sedang memetakan Selat Lombok untuk memantau pergerakan kapal selam Australia dan AS menuju Laut China Selatan.
Namun bukan hanya itu, China juga diduga mulai mempersiapkan jalur operasi bagi kapal selam nuklir dan drone bawah laut mereka sendiri hingga ke kawasan selatan.
“Perangkat itu dan lokasi penemuannya memperkuat fakta bahwa kekuatan maritim China berkembang sangat cepat,” ujar Hellyer.
Program Transparent Ocean sendiri pertama kali diperkenalkan ilmuwan oseanografi China Wu Lixin pada 2014.
Program tersebut bertujuan membangun sistem observasi tiga dimensi real-time di Samudra Pasifik Barat, Samudra Hindia, dan Laut China Selatan.
Sistem itu dirancang menggunakan jaringan satelit, kendaraan laut tanpa awak, drone bawah laut, hingga sensor dasar laut yang dihubungkan dengan kecerdasan buatan bernama Deep Blue Brain.
Profesor Ryan Martinson dari China Maritime Studies Institute, US Naval War College, mengatakan proyek tersebut bukan hanya soal penelitian laut.
“Ada indikasi kuat proyek ini didorong keinginan menerapkan pengetahuan laut untuk operasi angkatan laut, khususnya perang kapal selam dan anti-kapal selam,” katanya.
Meski China berdalih perangkat tersebut mungkin hanyut akibat gangguan teknis, para analis percaya data yang dikumpulkan memiliki nilai militer tinggi.
Sensor-sensor tersebut mampu membaca suhu air, arus laut, kedalaman, hingga karakter rambatan suara yang sangat penting dalam operasi sonar kapal selam.
“Semua faktor itu menentukan seberapa efektif sonar bekerja dan seberapa jauh suara bisa merambat,” ujar Parker.
Perangkat tersebut kini diamankan TNI AL di Pangkalan Angkatan Laut Mataram untuk penyelidikan lebih lanjut.
Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai siapa yang memasang alat tersebut.
Termasuk apakah perangkat itu memang sengaja ditempatkan di jalur strategis Indonesia.
Sumber: Konteks