RAKYATDAILY.COM – Kegagalan sistem deteksi dini di kapal pesiar MV Hondius memicu kondisi kritis bagi seorang penumpang asal Prancis.
Petugas medis awalnya mengabaikan tanda-tanda infeksi virus mematikan ini dan menyebutnya sebagai gangguan psikologis semata.
Pengabaian medis tersebut menjadi titik balik berbahaya bagi penyebaran hantavirus yang kini menjangkiti puluhan penumpang lain.
Pasien tersebut sempat dinyatakan stabil sebelum akhirnya jatuh dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan setelah dievakuasi.
Kini otoritas kesehatan dunia menyoroti prosedur skrining di atas kapal yang dianggap lalai dalam membedakan gejala fisik.
Kesalahan diagnosis ini memperburuk situasi darurat kesehatan internasional yang sedang berlangsung di beberapa negara sekaligus.
Menteri Kesehatan Spanyol, Javier Padilla Bernáldez, mengungkapkan bahwa dokter awalnya menilai gejala pasien tidak sesuai dengan indikasi hantavirus.
“Para dokter mengatakan gejalanya tidak ‘kompatibel dengan hantavirus’,” ujar Bernáldez menjelaskan keraguan tim medis saat itu, dikutip dari People.
Kecurigaan infeksi sempat dikesampingkan karena episode batuk yang dialami pasien dilaporkan telah menghilang beberapa hari sebelumnya.
“Dokter percaya ‘apa yang dia alami saat itu semacam stres atau kecemasan atau kegugupan’,” tutur Bernáldez menambahkan.
Namun, kenyataan pahit muncul setelah penumpang tersebut dievakuasi dari kapal dan menjalani pengujian laboratorium yang lebih mendalam.
Hasil tes menunjukkan bahwa ia positif hantavirus, berlawanan dengan penilaian awal yang hanya menganggapnya mengalami tekanan mental.
Bernáldez menegaskan bahwa pasien tidak sengaja menyembunyikan kondisinya demi bisa ikut dalam penerbangan evakuasi ke Paris.
“Bukannya pasien merasa tidak enak badan, lalu dia berkata: ‘Oke, saya tidak akan mengatakan apa pun karena saya ingin berada di pesawat’,” tegasnya.
Gejala parah justru baru mulai muncul saat pasien sudah berada di dalam pesawat menuju pusat perawatan intensif.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa wanita tersebut sekarang berada dalam kondisi yang “sangat kritis” di Paris.
Menteri Kesehatan Prancis, Stéphanie Rist, mengonfirmasi bahwa pelacakan kontak erat terhadap 22 orang telah dilakukan secara ketat.
Tragedi ini menambah panjang daftar kasus yang dikaitkan dengan wabah di kapal MV Hondius yang kini mencapai tujuh orang.
Hingga saat ini, tiga nyawa telah melayang akibat hantavirus yang diduga merupakan warga negara Belanda dan seorang warga Jerman.
Satu pasien lainnya masih berjuang di unit perawatan intensif di Afrika Selatan untuk bertahan hidup dari serangan virus tersebut.
Sebanyak 20 warga Inggris bersama penumpang asal Jepang dan Jerman telah dipindahkan ke Rumah Sakit Arrowe Park untuk isolasi.
Sementara itu, 14 penumpang asal Spanyol menjalani karantina wajib di sebuah rumah sakit militer yang berlokasi di Madrid.
Di sisi lain, otoritas Amerika Serikat telah mengevakuasi 17 warganya menuju pusat perawatan khusus di Nebraska untuk pemantauan.
“Satu penumpang saat ini mengalami gejala ringan dan penumpang lainnya dinyatakan positif PCR ringan untuk virus Andes,” lapor Departemen Kesehatan AS.
Penumpang asal Amerika Serikat ini akan menjalani evaluasi medis dan pemantauan ketat selama 42 hari ke depan secara kontinu.
Langkah ini diambil untuk mencegah potensi penyebaran virus Andes yang memiliki karakteristik serupa dengan wabah hantavirus di kapal.
Kapal pesiar MV Hondius memulai perjalanannya dari Argentina pada 1 April dengan membawa sekitar 150 penumpang dan awak kapal.
Rute perjalanan meliputi wilayah Antartika, Kepulauan Falkland, hingga berakhir di Kepulauan Canary sebelum wabah mulai melumpuhkan aktivitas kapal.
Sumber: Suara