RAKYATDAILY.COM – Prosesi ritual adat yang dijalani oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), saat menerima gelar kehormatan di Provinsi Lampung, terus memantik diskusi hangat di ruang publik.
Tidak sekadar dipandang sebagai prosesi budaya biasa, momentum unik tersebut kini mulai dibedah dari kacamata geopolitik nasional oleh sejumlah analis.
Direktur Rumah Politik Indonesia sekaligus pengamat politik, Fernando Emas, menilai bahwa prosesi menginjak kepala kerbau dalam upacara adat tersebut memuat pesan dua arah yang sangat kuat, yakni perpaduan antara nilai filosofis kebudayaan dan sublimasi simbol politik tingkat tinggi.
Fernando menjelaskan, penggunaan kepala kerbau sejatinya merupakan hal yang lumrah dan menjadi bagian integral dalam ritual sakral pemberian gelar adat di sejumlah daerah, termasuk dalam tradisi masyarakat Lampung.
Kendati demikian, dalam panggung politik yang dinamis, setiap simbol visual tidak pernah bebas dari tafsir.
Fernando menyoroti kemiripan anatomi antara kepala kerbau yang digunakan dalam ritual dengan lambang banteng moncong putih yang menjadi rasisme visual dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Hal inilah yang dinilai membuka ruang interpretasi liar di kalangan masyarakat.
“Sangat wajar jika ritual menginjak kepala kerbau tersebut kemudian melahirkan banyak makna di masyarakat. Saya pribadi juga memaknainya sebagai sebuah simbol perlawanan terbuka kepada partai politik yang selama ini telah membesarkan dan menghantarkannya menduduki kursi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden Republik Indonesia,” ujar Fernando Emas saat diwawancarai, Senin (29/6/2026).
Lebih lanjut, Fernando mengaitkan prosesi adat tersebut dengan manuver politik terbaru Jokowi yang belakangan kian terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Kehadiran Jokowi dalam safari politik di Lampung dengan menggunakan atribut khas partai bernuansa merah-putih tersebut dinilai bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari desain komunikasi politik yang sengaja dipertontonkan kepada khalayak luas.
Fernando berpendapat, kombinasi ritual adat dan safari parpol ini adalah sinyal awal bahwa Jokowi bersama PSI tengah menggalang kekuatan politik baru yang masif untuk menyongsong kontestasi Pemilu 2029.
“Seolah-olah ada pesan tersirat yang ingin dikirimkan Jokowi kepada publik, bahwa dirinya bersama PSI siap menantang dan mengalahkan dominasi PDIP pada Pemilu 2029 yang akan datang. Terlebih lagi, ritual adat ini dilakukan justru pada momentum safari politik perdana pasca-ia secara resmi merapatkan barisan ke PSI,” imbuh Fernando.
Fernando menambahkan, rangkaian kegiatan Jokowi di Bumi Ruwa Jurai berhasil memadukan agenda pelestarian budaya lokal dengan aktivitas konsolidasi partai politik secara cair, sehingga wajar jika melahirkan gelombang interpretasi yang beragam dari masyarakat akar rumput.
Meskipun demikian, ia tetap mengingatkan publik agar tidak melupakan esensi dasar dari ritual tersebut, di mana prosesi menginjak kepala kerbau merupakan murni bagian dari struktur adat istiadat setempat yang memiliki kesakralan tersendiri bagi masyarakat Lampung.
Namun, dalam konstelasi politik nasional yang sarat akan dramaturgi, simbol-simbol kebudayaan yang bersinggungan dengan figur publik setingkat mantan presiden akan selalu ditarik ke dalam pusaran tafsir politik, bergantung pada sudut pandang masing-masing aktor yang melihatnya.