IRONI Djajadi Djaja vs Salim, dari Mitra Bisnis hingga Dugaan Pengkhianatan

RAKYATDAILY.COM – Perseteruan antara Djajadi Djaja dan Sudono Salim masih menjadi kisah sejarah industri mi instan di Indonesia yang ramai diperbincangkan.

Di masanya, keduanya sama-sama memiliki produk yang menguasai pasar mi instan di tahun 1980-an. Bahkan untuk memperkuat posisinya, keduanya sepakat menjalin kolaborasi.

Sayangnya, kerja sama itu ditutup dengan akhir yang tragis dengan dugaan pengkhianatan yang membuat salah satu dari mereka tersingkir dan harus merelakan seluruh unit usahanya jatuh ke tangan rekan bisnisnya sendiri.

Perjalanan Awal Industri Mi Instan di Indonesia

Perjalanan mi instan di Indonesia di mulai pada tahun 1968, di mana PT Lima satu Sankyu, sebuah perusahaan kolaborasi Jepang-Indonesia, menjadi perusahaan yang pertama kali memperkenalkan mi instan di Indonesia melalui merek Supermi.

Selama dua tahun pertama, Supermi menjadi penguasa pasar mi instan tanpa adanya pesaing. Situasi ini membuat Supermi menjadi satu-satunya mi instan yang selalu siap sedia di dapur-dapur rumah tangga.

Namun monopoli pasar itu pecah saat PT Sanmaru Food hadir membawa merek baru, yaitu Indomie.

PT Sanmaru Food sendiri adalah perusahaan yang didirikan oleh Djajadi Djaja bersama rekan-rekannya di bawah naungan grup Djangkar Djati.

Sebagai pendatang, Indomie dan Supermi terlibat dalam persaingan yang cukup sehat selama hampir satu dekade.

Kondisi persaingan mulai berubah ketika memasuki akhir tahun 1970-an. Kala itu, Indonesia didera krisis kelangkaan beras, yang memaksa pemerintah dan sektor swasta bersama-sama mencari alternatif pangan selain nasi.

Sudono Salim, sang pemilik PT Bogasari, perusahaan tepung pertama dan terbesar di Indonesia, melihat potensi pasar yang cukup menggairahkan dari kondisi ini.

Dari semua jenis pangan, mi instan yang terbuat dari tepung, menjadi alternatif pangan yang dinilai cukup efektif menggantikan peran nasi untuk sementara waktu.

Mengetahui hal tersebut, Sudono Salim mendirikan PT Sarimi Asli Jaya dan meluncurkan mi instan dengan merek Sarimi.

Berbeda dengan dua produsen mi instan sebelumnya. Mi instan yang diproduksi oleh Salim mendapatkan dukungan penuh oleh pemerintah.

Bahkan secara terang-terangan, pemerintah mengkampanyekan kelebihan mi kepada masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada beras.

Dengan penuh percaya diri, Salim melakukan investasi besar-besaran dengan memesan 20 unit mesin pembuat mi instan tercanggih langsung dari Jepang.

Mesin tersebut diklaim mampu menghasilkan hingga 100 juta bungkus mi instan per unitnya.

Dengan lini produksi masif tersebut, Salim percaya bahwa produknya, Sarimi, bisa mencuri pasar mi instan dari Supermi dan Indomie.

Namun nasib berkata lain. Di pertengahan tahun 1980-an, situasi pangan membaik. Stok beras melimpah dan masyarakat Indonesia yang dari turun temurun sudah terikat pada nasi mulai kembali ke pola makan lama mereka.

Keinginan Salim untuk menjadikan mi instan sebagai makanan utama rakyat sekaligus penguasa pasar kandas.

Sadar ambisinya terancam oleh situasi ekonomi yang berubah, Salim mencoba mendekati kompetitornya, Djajadi Djaja.

Perselisihan Antara Salim dan Djajadi

Perselisihan antara Salim dan Djajadi Djaja dimulai pada pertengahan tahun 1980-an.

Salim yang menguasai industri tepung melalui PT Bogasari, mencoba mendekati Djajadi untuk berkolaborasi.

Dalam situasi ini, Salim sadar bahwa bisnisnya sedang di ujung tanduk. Di sisi lain, Djajadi menyadari maksud dan tujuan Salim.

Namun karena berbagai alasan, ia menolak tawaran kerja sama tersebut, meski sadar produknya sangat bergantung pada pasokan tepung dari Salim.

Penolakan yang menyayat hati tersebut mendorong Salim untuk melakukan “perang” dengan cara yang sangat agresif.

Ia menginvestasikan dana hingga US$10 juta hanya untuk membombardir pasar dengan iklan Sarimi dan menjualnya dengan harga jauh di bawah Indomie.

Strategi “bakar uang” ini membuahkan hasil telak. Dalam waktu singkat, Sarimi berhasil merampas 40 persen pangsa pasar mi instan.

Situasi ini membuat posisi Djajadi terhimpit dan tak punya banyak pilihan. Akhirnya, Djajadi bersedia menerima tawaran kerjasama, di mana ia dan Salim sepakat membentuk perusahaan patungan bernama PT Indofood Interna.

Di perusahaan ini, Djajadi menjadi pemegang mayoritas 57,5 persen saham, sementara Salim sebanyak 42,5 persen saham.

Awalnya, kerja sama ini membuat PT Indofood Interna menjadi produsen mi instan yang kuat di Indonesia.

Mereka tidak hanya menguasai pasar, tetapi juga berhasil mengakuisisi sang pionir, yaitu Supermi.

Namun hubungan harmonis itu hanya bertahan beberapa tahun saja. Konflik internal yang memanas, membuat Djajadi perlahan tersingkir.

Pada akhirnya, Djajadi terpaksa angkat kaki dari perusahaan dan merelakan merek Indomie yang dibesarkannya.

Di lain sisi, Salim yang berhasil mengambil alih Indomie mulai memasukkannya ke dalam PT Indofood Sukses Makmur.

Djajadi hanya bisa terdiam melihat merek miliknya diambil alih oleh Salim. Ia sadar, lawan yang dihadapinya bukan sekadar pengusaha, melainkan sosok kuat yang memiliki hubungan dekat dengan penguasa orde baru, Presiden Soeharto.

Namun setelah Presiden Soeharti lengser di tahun 1998, Djajadi mulai berani melakukan perlawanan.

Ia mulai buka suara dan membeberkan kisah pahitnya, di mana ia dipaksa menjual perusahaan beserta merek dagangnya, termasuk Indomie dan Chiki, dengan harga yang sangat murah pada tahun 1986.

Ia pun melayangkan gugatan raksasa senilai Rp620 miliar ke pengadilan. Meski orang terkuatnya sudah lengser, tembok kekuasaan Salim ternyata masih terlalu kokoh.

Perjuangan Djajadi untuk mendapatkan perusahaan dan merek dagangnya kembali berakhir di meja Mahkamah Agung. Tuntutannya kepada Salim di jalur hukum ditolak.

Penolakan ini membuatnya harus merelakan “bayi” yang ia besarkan jatuh sepenuhnya ke tangan Grup Salim.

Meski telah kehilangan merek ternamanya, Djajadi tidak patah semangat. Ia kembali membangun kerajaan bisnis melalui PT Jakarana Tama.

Dari perusahaan ini, ia melahirkan merek mi instan baru bernama Mie Gaga.

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY