RAKYATDAILY.COM – Niat sejumlah Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk berdialog dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis 15 Januari 2026 berakhir antiklimaks.
Alih-alih menyumbang ide untuk program “Asta Cita”, beberapa profesor justru tertahan di gerbang karena nama mereka tidak sinkron dengan daftar Sekretariat Negara (Setneg).
Insiden ini bermula dari surat undangan Ditjen Dikti Kemendiktisaintek yang mencantumkan delapan nama guru besar UGM.
Namun, koordinasi antara kementerian dan Setneg diduga chaos.
Salah satu guru besar UGM yang enggan disebut namanya menceritakan pengalaman “drama” tersebut.
Ia sudah terbang ke Jakarta dan melakukan registrasi sesuai prosedur. Namun, saat hari-H, namanya raib dari daftar akses Istana.
“Panitia malah minta saya pakai nama kampus lain supaya bisa masuk,” ungkapnya kecewa.
Tak hanya masalah nama, ia menyoroti teknis acara yang dianggap kurang profesional.
Jadwal mendadak dimajukan dari jam 13.00 ke jam 08.00 WIB, dengan aturan ketat yaitu dilarang membawa smartphone, smartwatch, hingga alat rekam.
Peserta wajib kumpul pukul 05.00 WIB untuk naik bus panitia.
Di sisi lain, tidak semua undangan disambut hangat. Guru Besar Ilmu Perencanaan Kota UGM, Bakti Setiawan, memilih absen sejak awal.
Ia meragukan efektivitas forum yang mengumpulkan ratusan orang sekaligus.
“Masak ratusan orang bisa beri masukan. Tujuan acara itu juga tidak begitu jelas,” tutur Bakti.
Menurutnya, menyampaikan kritik lewat jurnal ilmiah jauh lebih impactful daripada hadir di acara yang teknisnya belum matang.
Dari informasi yang dihimpun, hanya tiga perwakilan UGM yang berhasil masuk ke ruang dialog.
Ironisnya, salah satu dari mereka dikabarkan belum menyandang gelar profesor.
Hingga berita ini naik, Mensesneg Prasetyo Hadi maupun pihak Kemendiktisaintek belum memberikan respons.
Khususnya terkait miss-management daftar undangan yang mengakibatkan para akademisi senior ini “kecele” di depan pintu Istana.
Sumber: Konteks