Anak Eks Kapolri Merapat ke PSI, Pengamat Bongkar Skenario Jokowi: Basis Prabowo Terancam!

RAKYATDAILY.COM – Pengamat Politik dan Ekonomi, Heru Subagia menyebut, langkah mantan Bupati Indramayu, Nina Agustina, yang mendeklarasikan diri bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) setelah mendapat restu dari Joko Widodo, menjadi dinamika baru dalam peta politik Jawa Barat (Jabar).

Mengenal Sosok Nina

Heru mengaku mengikuti konstelasi dan kontestasi politik di Jabar, termasuk pada momentum Pileg dan Pilpres 2024 lalu, di mana ia kerap berada dalam satu arena politik bersama Nina.

“Konstalasi dan kontestasi politik di Jabar dan kebetulan pada Pileg dan Pilpres kemarin sering bersama dengan ibu Nina,” ujar Heru, Rabu (25/2/2026).

Ia menjelaskan, pada 2024 lalu, Nina masih aktif menjabat kepala daerah sekaligus Ketua PDIP Kabupaten Indramayu.

“Waktu itu ibu Nina selaku Bupati Cirebon masih aktif di tahun 2024 kemarin, dia juga Ketua PDIP Kabupaten Indramayu,” sebutnya.

Menurutnya, posisi tersebut sejalan dengan mekanisme internal partai, kepala daerah yang diusung PDIP otomatis menjadi Ketua PDIP.

Kekuatan PSI Jika Jokowi Gabung

Heru juga menyinggung pertemuannya dengan Jokowi yang membahas masa depan PSI.

“Ini sangat menarik ketika saya dalam sesi kedua, pertemuan dengan pak Jokowi, saya mendengar bagaimana pak Jokowi bercerita seandainya dipilih Ketua Umum, PSI akan mendapatkan elektabilitas sekitar 20 persen,” ucapnya.

“Bilamana pak Jokowi didaulat Ketua Dewan Pembina, PSI akan mendapatkan elektabilitas sekitar 17 persen,” tambahnya.

Dalam perkembangannya, Heru mengaku sempat membahas secara spesifik isu PSI di wilayah Jawa Barat.

“Ini menarik sekali, PSI Jabar sudah memasang kuda-kuda, strategis, saya pikir titik balik untuk mendapatkan suara penuh,” tukasnya.

Ia melihat Indramayu sebagai titik awal yang strategis. Wilayah yang tidak asing baginya ketika mencalonkan diri sebagai calon DPR RI.

Heru juga mengungkap kedekatannya dengan Nina dalam sejumlah panggung politik sebelumnya.

“Yang unik dalam hal ini, Bu Nina ini dulu sering satu panggung dengan saya. Waktu itu saya selaku ketua Pak Ganjar, ibu Nana selaku Ketua PDIP Indramayu,” sebutnya.

Kekuatan PDIP Tidak Lagi Dominan di Jabar

Terkait peta kekuatan partai di Jabar, ia menilai posisi PDIP saat ini tidak lagi dominan.

“Sebenarnya di Jabar ini PDIP dalam Pileg 2024 kemarin menempati posisi empat. Pertama Gerindra, PKS, Golkar, dan PDIP,” bebernya.

Ia menyebut basis dukungan PDIP kini tersisa di sejumlah wilayah tertentu.

“Basis dukungan PDIP di Jabar hanya tersisa beberapa kantong. Kabupaten Cirebon, Pangandaran, Banjar, sebagian Ciamis, Kuningan, dan Majalengka,” Heru menuturkan.

Meski Indramayu bukan basis utama PDIP, wilayah tersebut dinilai cukup dekat dengan kantong-kantong suara partai berlambang banteng itu.

“Walaupun Indramayu bukan basis PDIP, namun cukup dekat dengan daerah penyangga kantong-kantong kemenangan PDIP,” imbuhnya.

Heru melihat langkah Nina bergabung dengan PSI sebagai strategi menyasar ceruk tersebut.

“Ini yang saya lihat bagaimana PSI dan ibu Nina adalah pilihan tepat menyasar basis kantong-kantong PDIP.”

Ia juga menginggung fakta bahwa Ketua PDIP Jabar saat ini berasal dari Indramayu.

“Saat ini Ketua PDIP Jabar juga berasal dari Indramayu, tentu ini ada dua dinamika politik bagaimana Nina dan juga ketua PDIP Jabar yang berada dalam wilayah yang sama. Kedepannya akan menjadi pesaing antara PSI dan PDIP,” terangnya.

Nina Diyakini Masih Punya Basis Suara

Meskipun tidak terpilih kembali pada Pilkada sebelumnya, Heru tetap meyakini Nina masih memiliki basis suara yang signifikan.

Ia menambahkan, PSI di Jabar telah menunjukkan perkembangan dengan berhasil menempatkan satu anggota DPRD Provinsi.

Dalam analisisnya, peta politik Jabar saat ini masih dipimpin oleh partai-partai besar.

“Kalau peta politik di Jabar pemenangnya adalah Gerindra, Golkar, dan PKS, kemudian PDIP. Saya lihat pak Jokowi masih menahan diri, berhati-hati untuk melakukan titik-titik sedang. Dimana klaster-klaster Gerindra, Golkar, dan PKS ini berada di wilayah Jabar,” jelasnya.

Kata Heru, strategi ini berkaitan dengan posisi Gibran Rakabuming Raka yang kini berada dalam pemerintahan.

“Memang PDIP yang menjadi sasaran paling empuk untuk dimakan dan tentu ini Nina adalah sosok yang akan menjadi eksperimental di Jabar,” imbuhnya.

“Bagaimana keganasan Partai Gajah ini akan melibas PDIP dan sekaligus akan mewarnai kontestasi politik di wilayah Jabar,” sambung dia.

Tidak berhenti di situ, Heru memprediksi dinamika koalisi nasional juga akan berpengaruh ke Jawa Barat.

Apalagi jika PSI bisa masuk menggaet suara di Pondok-pondok Pesantren yang selama ini menjadi basis Gerindra.

“Analisa saya, jika dalam perkembangannya nanti Prabowo dan Jokowi pecah kongsi, otomatis Jokowi dan PSI akan segera menyerbu daerah di mana kemenangan Gerindra tentunya,” kuncinya.

Seperti diketahui, baru-baru ilni mantan Bupati Indramayu Nina Agustina disebut-sebut bergabung ke PSI usai temui Jokowi di Solo. Bahkan, mengaku telah mendapat restu langsung.

Sumber: Fajar

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY