RAKYATDAILY.COM – Teka-teki pertemuan tingkat tinggi antara dua raksasa ekonomi dunia akhirnya terjawab.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dipastikan akan melawat ke Beijing untuk menemui Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026 mendatang.
Kunjungan kenegaraan yang diklaim sebagai momen ‘yang telah lama ditunggu-tunggu’ ini menjadi lawatan perdana Trump ke China sejak ia kembali menduduki Ruang Oval pada Januari 2025.
Sejatinya, pertemuan krusial ini dijadwalkan bergulir pada 31 Maret hingga 2 April lalu.
Namun, rencana tersebut urung terlaksana.
Alasannya strategis: Trump memilih ‘jago kandang’ dan tetap berada di Washington guna mengawal langsung agresi militer AS dan Israel terhadap Iran yang meletus pada 28 Februari lalu.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang mengumumkan jadwal baru ini pada Rabu (25/3/2026) waktu setempat, turut memastikan adanya komitmen resiprokal dari kedua negara.
Leavitt menyebut bahwa Trump bersama Ibu Negara Melania Trump bersiap membalas jamuan tersebut dengan mengundang Xi Jinping beserta istri, Peng Liyuan, ke Washington pada akhir tahun ini.
Tak butuh waktu lama bagi Trump untuk meramaikan jagat media sosial.
Melalui akun media sosial resminya, ia mengonfirmasi kesiapannya untuk berdialog selama dua hari penuh di Beijing.
“Perwakilan kami sedang menyelesaikan persiapan untuk kunjungan bersejarah ini. Saya sangat menantikan untuk menghabiskan waktu bersama Presiden Xi dalam apa yang saya yakin akan menjadi peristiwa yang monumental,” tulis Trump.
Penetapan tanggal di pertengahan Mei ini tak pelak memunculkan spekulasi terkait durasi konflik di Timur Tengah.
Ketika dicecar pertanyaan apakah jadwal tersebut mengindikasikan operasi militer AS dan Israel di Iran akan segera rampung, Leavitt memberikan kalkulasi waktu yang cukup eksplisit.
“Kami selalu memperkirakan operasi militer itu akan selesai sekitar empat hingga enam minggu. Jadi, Anda bisa menghitungnya sendiri. Saya tahu Presiden berharap dapat pergi ke China pada 14 dan 15 Mei,” tegas Leavitt.
Pertemuan di Beijing nanti dipastikan bukan sekadar ajang ramah tamah.
Sejak meneken kesepakatan gencatan senjata perang dagang berdurasi satu tahun pada Oktober 2025 lalu, Trump terus mengklaim adanya kemajuan ekonomi yang menempatkan hubungan Washington-Beijing pada pijakan yang lebih stabil.
Di meja perundingan nanti, sejumlah isu kelas berat telah menanti untuk dibedah.
Selain membahas sengketa perdagangan dan dinamika geopolitik di Taiwan, Trump membawa misi krusial yang sarat kepentingan domestik: mengamankan komitmen China untuk memborong lebih banyak produk pertanian AS.
Manuver ekonomi ini merupakan langkah taktis Trump demi mendongkrak dukungan dari lumbung suara pertanian AS, sebuah basis yang vital menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada November mendatang