RAKYATDAILY.COM – Komisaris PLN Nusantara Power, Ade Armando mendadak menyinggung pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh oposisi yang selama ini dikenal vokal mengkritik.
Dalam perbincangan tersebut, Ade menganggap beberapa nama yang hadir memiliki sikap kritis, bahkan cenderung berseberangan dengan Presiden ke-7 RI, Jokowi.
Tokoh-tokoh yang dimaksud di antaranya mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu, hingga Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) R Siti Zuhro.
Hal ini disentil Ade dalam program Rakyat Bersuara bertajuk ‘Di Balik Pertemuan Prabowo dan Tokoh Kritis’ pada Selasa (10/2/2026).
Dikatakan Ade, figur-figur tersebut memiliki pandangan yang kurang lebih serupa dalam hal sikap terhadap Jokowi.
“Kan sebetulnya teman-teman Bapak (menunjuk Susno Duadji) itu, Pak Abraham Samad, Said Didu, siapa lagi? Bu Siti Zuhro dan Hersu itu sebetulnya adalah orang-orang yang mungkin mirip-mirip anda, agak anti Jokowi gitu lho,” ujar Ade, Kamis (12/2/2026).
Meski demikian, Ade melihat kehadiran mereka bukan tanpa pertimbangan.
Ia menilai Prabowo sengaja mengundang kalangan yang dikenal kritis namun tetap memiliki latar belakang intelektual.
Pertemuan itu sendiri berlangsung di kediaman Prabowo di Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (30/1/2026).
“Saya sebut dulu milih-milih. Tapi dia nggak mau mengundang orang seperti misalnya Roy Suryo, ya, atau bahkan Rocky Gerung yang sebetulnya dulu adalah orang dekatnya Pak Prabowo kan,” Ade menuturkan.
“Jadi dia kayaknya memilih orang-orang yang masih bisa diajak bicara nih, yang intelek kan,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ade juga meluruskan anggapan bahwa para tokoh itu merupakan bagian dari oposisi pemerintahan saat ini.
Ia lebih memilih menyebut mereka sebagai kelompok yang selama ini kritis terhadap Jokowi.
“Kalau saya lebih gampang lagi itu kelompok kritis terhadap Pak Jokowi ya,” tandasnya.
Sebelumnya, Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, membeberkan isi pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto yang berlangsung hampir empat jam di Kertanegara, Jakarta, Jumat (30/1/2026) kemarin malam.
Dalam pertemuan tersebut, Said Didu menyebut pembahasan utama berkutat pada agenda besar pengembalian kedaulatan negara yang, menurutnya, selama ini telah dirampas oleh oligarki.
Ia mengaku datang menemui Presiden Prabowo dengan membawa mandat moral dari kelompok di luar pemerintahan.
Mandat tersebut, kata dia, berisi rencana pembentukan sebuah gerakan independen untuk merebut kembali kedaulatan rakyat.
“Saya melaporkan langsung bahwa kami di luar akan menghimpun diri dalam gerakan merebut kembali kedaulatan rakyat,” ujar Said Didu dikutip dari kanal YouTube YouTuber Pejuang, Senin (2/2/2026).
“Dan saya kaget, Presiden langsung menyatakan bahwa keresahan itu juga dirasakan di dalam,” tambahnya.
Dikatakan Said Didu, Prabowo memahami kondisi Indonesia yang sedang mengalami kerusakan sistemik.
Said Didu menyebut kedaulatan politik, ekonomi, hukum, hingga pengelolaan sumber daya alam telah dikuasai oleh segelintir elite.
Ia menegaskan, gerakan yang akan dibangun tidak dimaksudkan sebagai alat kekuasaan atau kelompok pendukung pemerintah, melainkan murni gerakan kedaulatan.
“Kami bukan ternak siapa pun. Kami adalah ternak kedaulatan. Siapa pun yang merampas kedaulatan, akan kami hadapi,” tegasnya.
Sumber: Fajar