Dibuang? PSI Pasrahkan Soal Cawapres ke Prabowo, PAN Dorong Zulhas, Dahlan Iskan Ungkap Nasib Gibran di 2029!

RAKYATDAILY.COM – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menanggapi langkah politik Partai Amanat Nasional (PAN) yang membuka peluang mengusung Zulkifli Hasan sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni mendoakan Zulkifli Hasan senantiasa sehat.

Raja Juli menganggap wajar dalam dinamika politik koalisi. Menurutnya, setiap partai termasuk PAN memiliki hak dan ruang untuk menyampaikan aspirasi politik masing-masing.

“Bagus saja kalau PAN mencalonkan Pak Zul sebagai Cawapres. Saya doakan Pak Zul sehat walafiat menuju 2029,” tutur Raja Juli di Jakarta, dikutip pada Rabu (11/2/2026).

Namun Raja Juli menggarisbawahi bahwa penentuan Cawapres sepenuhnya ada di tangan Prabowo sebagai pemimpin tertinggi koalisi.

“Kalau sudah sukses, soal Cawapres 2029 kita serahkan kepada Pak Prabowo, sebagai pimpinan tertinggi kita. Biar bos kita yang menentukan siapa pendamping yang membuat beliau nyaman dan diterima juga oleh masyarakat,” ujar Menteri Kehutanan itu.

Menurut Raja Juli, keputusan tersebut sebaiknya mempertimbangkan kenyamanan kerja serta penerimaan publik.

Ia menegaskan fokus utama partai-partai yang tergabung dalam koalisi pemerintahan saat ini semestinya tidak terpecah oleh wacana kontestasi lima tahunan mendatang.

Dia mengingatkan pentingnya konsolidasi internal untuk memastikan agenda pemerintahan berjalan optimal.

“Bagi PSI hari-hari ini anggota koalisi hedaknya menyibukan diri mensukseskan program-program Pak Prabowo Subianto. Yang paling penting semua kompak dulu sukseskan program Pak Prabowo,” ujarnya.

Raja Juli menekankan, keberhasilan program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi prioritas utama yang harus dijaga bersama oleh seluruh partai pendukung.

Menurutnya, soliditas koalisi menjadi kunci agar agenda-agenda strategis pemerintahan dapat terealisasi.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menyampaikan bahwa partainya bertekad untuk kembali mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2029.

Namun, untuk posisi calon wakil presiden, PAN mulai mempertimbangkan opsi baru selain Gibran Rakabuming Raka, termasuk kemungkinan mendorong kader internal partai.

Eddy menyebut penentuan pasangan capres-cawapres harus didasarkan pada berbagai pertimbangan strategis, mulai dari kecocokan kerja hingga kekuatan elektoral.

“Kita tentu kita lihat nanti opsi-opsi terbaik. Karena kembali lagi, yang namanya paket itu tentu kan harus ada simbiosisnya bisa bekerjasama dengan baik ada juga dukungan elektoralnya tinggi dan sebagainya. Jadi pertimbangan-pertimbangannya banyak untuk itu. Oleh karena itu, biarkan itu berjalan tetapi kita hari ini sudah berketetapan hati,” jelas Eddy di Komplek Parlemen, Senayan, Kamis (5/2/2026).

Menurut Eddy, penentuan paket capres-cawapres tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa karena menyangkut kepentingan politik jangka panjang.

Mengenai loyalitas PAN terhadap Prabowo Subianto, Eddy memastikan sikap partainya tidak berubah.

Ia menegaskan PAN akan tetap berada di barisan pendukung Prabowo untuk periode mendatang.

“Kita sudah mendukung Pak Prabowo tiga kali, keempat kalinya itu sudah jadi jawaban kita,” tegas Eddy.

Sebelumnya, Ahmad Ali, Ketua Harian PSI menegaskan kalau Wapres Gibran Rakabuming Raka dilepas oleh Prabowo justru bahaya.

Gibran bisa jadi pesaing berat Prabowo di Pilpres mendatang.

Jurnalis senior Dahlan Iskan menilai ucapan Ahmad Ali tersebut punya dua maksud, salah satunya, jangan sampai Gibran tidak jadi pasangan Prabowo di pilpres mendatang.

Maksud kedua, bukan salah Gibran kalau kelak ia maju sendiri sebagai capres dari PSI.

“Namanya saja politik. Rasanya Ahmad Ali hanya ingin mendapat penegasan sejak dini: agar Gibran tetap digandeng Prabowo. Itu saja dianggap Gibran sudah jauh mengalah: harusnya giliran Gibran yang menjadi capres dan Prabowo cukup satu periode,” kata Dahlan dalam Catatan Dahlan Iskan dikutip dari Disway, Rabu (11/2).

Menurutnya, sebelum Pilpres ada pemilihan anggota DPR.

Di pileg itu nanti posisi PSI memang sulit. Kalau tokoh utamanya hanya sebagai cawapres apa yang bisa “dijual”.

“Beda kalau sejak awal PSI sudah memutuskan: PSI akan mencapreskan Gibran. Rasanya bisa lebih semangat. Kalau PSI hanya bilang akan “mencawapreskan” Gibran di mana menariknya?” tuturnya.

Dahlan menambahkan, memang sulit bagi PSI untuk langsung mencalonkan Gibran.

Harus ada kejelasan dulu dari sikap Prabowo, apakah putra sulung Joko Widodo itu digandeng lagi atau tidak.

Kalau Gibran digandeng lagi berarti PSI harus berebut suara di lingkungan “pendukung Prabowo”.

PSI harus bertarung di dalam selimut yang sama yakni selimut Gerindra. Padahal ada banyak partai di bawah selimut yang sama.

“Maka kalau Gibran tetap digandeng Prabowo, PSI harus menggunakan “cara Nasdem” untuk meraih banyak kursi di parlemen: “membajak” para pemilik kursi dari partai lain,” terang Dahlan.

Sumber: Fajar

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY