RAKYATDAILY.COM – Kubu mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menduga ada agenda tersembunyi di balik laporan dugaan penistaan agama terkait ceramah mati syahid terhadap Wapres ke-10 dan 12 RI itu yang dilakukan oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) ke Polda Metro Jaya.
Hal itu diungkap Juru Bicara JK, Husain Abdullah.
Ia berpendapat, laporan itu berpeluang menjadi upaya pembungkaman terhadap JK yang belum lama ini bersuara menyarankan agar mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan ijazah aslinya guna menuntaskan polemik di publik.
“Memang menarik mencermati fenomena munculnya serangan sosmed terhadap Pak JK pascapelaporan sehubungan kasus ijazah Jokowi. Apakah serangan bertubi-tubi itu upaya dalam membungkam Pak JK? Bisa saja benar,” ungkap Husain dalam keterangan resminya, mengutip Rabu 15 April 2026.
Dia menyebut di media sosial banyak pernyataan bahwa pelaporan muncul setelah keluarnya saran JK yang meminta Jokowi menunjukkan ijazah aslinya agar persoalan segera selesai.
“Tetapi untuk membungkam Pak JK dengan pemutar balikan fakta dan mencari cari kesalahan yang sebenarnya tidak ada, bukan tanpa risiko balik. Buktinya saat ini, tanpa diminta justru banyak (pihak) yang membela Pak JK,” tutur Husain.
Dijelaskannya, dalam kasus ini sudah ada kalangan tokoh umat Kristiani yang sudah menemuinya. Pertemuan ini tentunya telah dikoordinasikan para tokoh ke kalangan di bawahnya.
“Dari para tokoh umat Kristiani banyak yang memberi pandangan posiitif dan mendukung Pak JK. Mereka meyakini niat baik dan ketulusan Pak JK. Tokoh-tokoh ini tentu berkomunikasi juga ke (arus) bawah,” tambahnya.
Ia menambahkan, pihak pelapor sendiri sampai sekarang belum ada yang berkomunikasi dengan JK. Pada sisi JK, sebut Husain, menilai bahwa dialog memang lebih bermartabat.
“Karena hal dilaporkan tidak jelas pelanggarannya di mana. Harusnya yang dilapor adalah yang memotong video lalu mem-posting-nya dengan narasi menyesatkan. Itulah biang kerok sebenarnya yang harus dilaporkan. Dia lah otak pengadu domba,” tegas Husain.
Jubir JK, Husain Abdullah sebelumnya mengatakan, video pernyataan JK dalam ceramah di Masjid UGM pada 5 Maret 2026 diduga telah terpotong dan dibumbui narasi yang melenceng.
Husain menyarankan agar pihak pelapor terlebih dahulu melakukan kajian secara utuh konteks pernyataan yang beredar.
Menurut dia, inti ceramah JK pada 5 Maret lalu adalah pembelajaran tentang cara mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, merujuk pada pengalaman konflik di Poso dan Ambon.
JK saat itu mengatakan realitas sosiologis yang berkembang di tengah konflik.
Yakni, kedua pihak baik Muslim maupun Kristen, menggunakan jargon agama dalam membenarkan tindakan kekerasan.
Konflik Poso dan Ambon adalah merupakan konflik bernuansa SARA yang sulit dihentikan dan telah menelan korban ribuan jiwa. Yaitu, sekitar 2.000 orang di Poso dan 5.000 jiwa di Ambon.
Dalam ceramahnya, JK menegaskan pemahaman yang berkembang saat itu harus diluruskan.
Sebab saling membunuh tidak dibenarkan dalam agama mana pun.
“Maka Pak JK mengatakan, Anda semua akan masuk neraka jika saling membunuh, bukan masuk surga. Karena tidak ada agama yang mengajarkan untuk bertindak demikian,” kata Husain.
Sumber: Konteks