DEMOCRAZY.ID – Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud keluar dari kantor sekitar pukul 20.00 WITA tak lama setelah polisi berhasil memukul ratusan massa yang unjuk rasa, Selasa (21/4).
Rudy Mas’ud keluar dari kantor sekitar pukul 20.00 WITA atau sekitar satu jam setelah massa berhasil dipukul mundur oleh aparat.
Dengan pengawalan ketat, ia berjalan cepat menuju rumah dinas yang berjarak sekitar 100 meter dari kantor gubernur.
Kapolda Kalimantan Timur, Endar Priantoro, mengonfirmasi bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim sebenarnya berada di dalam gedung saat aksi berlangsung.
Namun, keduanya memutuskan untuk tidak menerima massa yang meminta audiensi langsung.
“Gubernur ada tadi di kantor, tapi memang tidak menerima mereka untuk audiensi,” ujar Endar di lokasi kejadian.
Ketegangan mulai memuncak sekitar pukul 18.00 WITA.
Aksi saling lempar antara massa dan petugas tak terhindarkan, hingga akhirnya polisi mengerahkan water cannon untuk membubarkan kerumunan pada pukul 20.00 WITA.
Demonstrasi ini membawa tiga tuntutan utama, yaitu evaluasi kebijakan Pemprov Kaltim, penghentian praktik KKN, serta desakan agar DPRD memaksimalkan fungsi pengawasan.
Namun, isu yang paling memicu kemarahan massa adalah terkait gaya hidup pejabat di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Beberapa poin anggaran yang menjadi sorotan tajam meliputi: Anggaran renovasi rumah dinas senilai Rp 25 miliar, termasuk pengadaan akuarium laut dan alat fitness.
Kemudian pengadaan mobil mewah jenis Range Rover senilai Rp 8,5 miliar.
Sikap bungkam dari pihak pemerintah provinsi dinilai memperkeruh situasi dan menyisakan kekecewaan mendalam bagi massa aksi.
Sumber: PojokSatu