Oleh: Tarmidzi Yusuf | Kolumnis
‘Kelakuan’ Prabowo akhir-akhir ini bikin kita geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya orang yang oleh pengagumnya itu disebut “ahli strategi” malah jadi “salah strategi”.
Manuver orang yang pernah dijuluki ‘Macan Asia” lebih terlihat sebagai “Meong Asia” karena ‘kelakuan’ Prabowo banyak menuai kecaman publik. Tidak adil.
Setelah berhasil ‘melumpuhkan’ kelompok oposisi Indonesia yang diwakili Said Didu dan kawan-kawan. Suara lantang, keras dan pedas itu kini tinggal senyap sunyi ditelan ‘euforia’ pertemuan di Kartanegara.
Kuat dugaan Said Didu dan kawan-kawan kena prank. Belum terlihat apa yang terungkap ke publik hasil pertemuan yang dibangga-banggakan itu menjadi nyata.
Malah rakyat setiap hari disuguhkan sikap aneh Prabowo dan menteri-menterinya.
Mirisnya lagi MUI ikut-ikutan. Semula menjadi garda terdepan menolak Indonesia bergabung di Board of Peace (BoP).
Penolakan itu tak terdengar lagi setelah diiming-imingi MUI Tower setinggi 40 lantai di bundaran HI, Jakarta.
Tak berlebihan bila Prabowo, Presiden Indonesia ke-8 yang sering diasosiasikan 08 sebagai budak politiknya Donald Trump.
Terutama pasca Indonesia menjadi sekutu utama Donald Trump dan Benyamin Netanyahu. Duduk semeja. Belakangan berdiri paling pinggir. Kesan ‘dimanfaatkan’ Donald Trump sulit terbantahkan.
Misi yang kita tak habis pikir. Bergabung dalam BoP sebagai upaya melumpuhkan HAMAS, gerakan perlawanan terhadap Zionis Israel melalui pasukan berkedok perdamaian, International Stabilization Force (ISF).
Bahkan dengan bangganya Indonesia akan kirim 8.000 tentara perdamaian versi Donald Trump untuk melucuti HAMAS, gerakan perlawanan rakyat Palestina. Sementara Israel dengan sesuka hati membombardir rakyat Palestina.
Kalau 8.000 tentara Indonesia yang dikirim ke Palestina untuk melawan Israel pasti kita dukung. Atau setidaknya untuk menghentikan kebiadaban Israel terhadap Palestina.
Atau ini yang lebih tepat. 8.000 tentara Indonesia bukan hanya melucuti senjata HAMAS.
Tapi juga melucuti senjata tentara Israel di wilayah pendudukan. Ini adil. Baru kita sebut ahli strategi dan macan Asia.
Payahnya. Sikap bermuka dua Donald Trump diikuti Indonesia. Ikut-ikutan melakukan pembiaran pembunuhan warga Palestina dan merampas tanah rakyat Palestina oleh penjajah Israel.
Perdamaian yang bagaimana yang diinginkan Prabowo dengan bergabung dalam BoP (Board of Peace)? Atau hanya sekadar mencari perlindungan politik baru setelah “takluk” ditangan Xi Jinping melalui antek-anteknya di dalam negeri.
Mengorbankan hak-hak kemerdekaan rakyat Palestina yang dijamin oleh konstitusi Indonesia bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Oleh karena itu, penjajahan dimuka bumi harus dihapuskan.
Prabowo juga menggadaikan kedaulatan Bangsa Indonesia kepada Amerika Serikat melalui penyerahan data Indonesia ke Amerika Serikat. Banyak tokoh nasional menyebut sebagai pengkhianatan kedaulatan Bangsa.
Sedihnya lagi dalam kesepakatan dagang Indonesia dan Amerika Serikat! Amerika Serikat bebas impor makanan tanpa harus memiliki sertifikasi halal dari lembaga yang berwenang.
Dimana perlindungan negara terhadap rakyatnya terutama ummat Islam?
Bukan hanya Bangsa Palestina yang jadi korban. Bangsa Indonesia lagi-lagi menjadi korban kebijakan Prabowo. Daging impor baik sapi maupun ayam bakal bebas masuk Indonesia tanpa jelas halal haramnya.
Prabowo egois! Hanya mementingkan bagaimana bisa bertahan dari singgasana kekuasaan setelah merebaknya isu kudeta merangkak.
Keanggotaan Indonesia di BoP dinilai sebagai bentuk perlindungan politik Prabowo terhadap isu-isu politik dan ekonomi yang menggoyang kekuasaan Prabowo.
Komprominya. Indonesia ikut-ikutan Amerika Serikat sebagai negara munafik. Politik luar negeri standar ganda. Membungkus penjajahan tanah Palestina dengan perdamaian.
Satu sisi berapi-api bela Palestina. Sisi lain, Indonesia tak berbuat apa-apa ketika rakyat Palestina dibantai Israel dan tanahnya dirampas penjajah Israel.
Perbudakan politik oleh Donald Trump juga merampas hak rakyat Indonesia. Penyerahan data pribadi dan proteksi impor makanan halal tak penting lagi ketika syahwat politik Prabowo mengalahkan hak mayoritas rakyat. ***