Portofolio DAT pun semakin beragam, mulai dari aset kripto utama seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) hingga Solana, XRP, serta sejumlah altcoin pilihan. Model eksposur yang luas ini menarik perhatian pelaku Wall Street yang mencari akses alternatif ke aset digital tanpa harus langsung memegang kripto.
Namun, dikutip dari coinmarketcap, Kamis (1/1/2026), kondisi pasar berubah drastis pada paruh kedua 2025. Volatilitas yang meningkat dan koreksi harga berkepanjangan di pasar kripto menyebabkan harga saham banyak DAT anjlok tajam.
Penurunan nilai aset dan mengetatnya likuiditas memunculkan dua tantangan utama, yakni penyesuaian neraca keuangan dan tekanan likuiditas operasional. Sentimen investor pun melemah signifikan, memunculkan pertanyaan besar terkait kelangsungan jangka panjang perusahaan treasury kripto.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Analis industri Altan Tutar menilai DAT yang berfokus pada altcoin memiliki kerentanan struktural lebih tinggi saat pasar mengalami tekanan.
Perusahaan jenis ini umumnya memegang aset dengan likuiditas lebih rendah dan tingkat adopsi institusional yang terbatas, sehingga sulit menjaga kapitalisasi pasar tetap berada di atas nilai aset bersih (market Net Asset Value/mNAV).
Dalam kondisi kepercayaan pasar menurun, struktur treasury semacam ini sering kali menjadi yang pertama kehilangan dukungan investor. Risiko delisting, restrukturisasi, hingga keluar dari pasar pun meningkat.
Sementara itu, treasury yang berfokus pada aset utama seperti Ethereum, Solana, atau XRP memang memiliki likuiditas lebih dalam dan pengakuan pasar yang lebih luas. Namun, aset tersebut tetap tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan pasar berkepanjangan.
Seiring pasar kripto mengalami penyesuaian struktural, faktor seperti konstruksi portofolio, disiplin manajemen risiko, dan efisiensi operasional kini menjadi penentu utama apakah sebuah perusahaan dapat bertahan atau tersingkir.
Co-founder Solv Protocol, Ryan Chow, menegaskan perusahaan yang hanya mengandalkan kepemilikan Bitcoin atau satu aset digital saja tidak memiliki keberlanjutan jangka panjang.
Menurut Chow, lonjakan jumlah perusahaan publik atau semi-publik pemegang Bitcoin sepanjang 2025 justru membuka kelemahan mendasar, yakni ketiadaan strategi pengelolaan yield dan likuiditas.
Ia menekankan, perusahaan yang bertahan ke depan adalah mereka yang memperlakukan aset digital bukan sekadar penyimpan nilai pasif, melainkan modal yang dapat menghasilkan imbal hasil.
Strategi ini mencakup staking, lending, hingga keterlibatan selektif di protokol DeFi, disertai penyeimbangan portofolio yang dinamis. Selain itu, optimalisasi likuiditas menjadi kunci untuk menghadapi kondisi pasar yang tertekan.
Di sisi lain, CEO First Digital, Vincent Chok, menyoroti meningkatnya tekanan dari produk Exchange-Traded E-products (ETE) kripto. Dibandingkan DAT, produk ETE menawarkan transparansi harga, kejelasan regulasi, dan pengelolaan likuiditas yang lebih baik.
Menurut Chok, agar tetap relevan, DAT harus menyelaraskan tata kelola, standar audit, dan praktik manajemen aset dengan produk ETF atau ETE. Tanpa itu, perusahaan treasury kripto berisiko tersisih.
Memasuki 2026, sektor DAT diperkirakan akan mengalami konsolidasi besar-besaran. Perusahaan yang mampu bertahan umumnya memiliki eksposur ke aset utama, strategi yield dan likuiditas yang matang, serta standar operasional setara produk investasi teregulasi.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kepercayaan investor sekaligus mendorong profesionalisasi industri pengelolaan aset digital secara global.