Tak Terima Diserang, Iran Tuding AS dan Israel Gunakan Propaganda Ala ‘Goebbels’

RAKYATDAILY.COM – Perang urat saraf antara Iran dengan poros Amerika Serikat (AS) dan Israel semakin tajam.

Padahal, putaran ketiga perundingan nuklir antara Iran dengan AS di Jenewa, Swiss sudah dimulai pada Kamis (26/2/2026) hari ini.

Pemerintah Iran secara resmi meluncurkan serangan verbal terhadap Presiden AS, Donald Trump dan pemerintah Israel.

Teheran menuding kedua negara tersebut menggunakan teknik propaganda hitam peninggalan era Nazi.

Propaganda tersebut terkenal dengan “ala Joseph Goebbels”, untuk memanipulasi opini publik global demi membenarkan agresi militer di Timur Tengah.

Melalui pernyataan resminya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa retorika yang dibangun oleh Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, adalah bentuk distorsi informasi yang sistematis.

Mereka, lanjut Baqaei, merujuk pada taktik Joseph Goebbels, menteri propaganda Nazi, yang memiliki prinsip bahwa kebohongan yang diulang-ulang secara terus-menerus pada akhirnya akan dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat.

“Dunia sedang menyaksikan kebangkitan kembali propaganda ala Goebbels.”

“Washington dan Yerusalem sedang merancang narasi palsu yang berbahaya untuk menyudutkan Iran, seolah-olah kami adalah ancaman bagi perdamaian dunia.”

“Padahal merekalah yang mengerahkan armada perang ke wilayah kami,” tegas Baqaei, mengutip Times of Israel.

Salah satu poin utama kemarahan Iran adalah klaim intelijen Israel yang menyebutkan bahwa Teheran telah memulai langkah rahasia menuju pembuatan hulu ledak nuklir.

Baqaei dengan tegas membantah hal tersebut dan menyebut bukti-bukti yang dipaparkan oleh pihak Israel sebagai “dokumen palsu” yang dirancang untuk memancing amarah Trump.

Ia menekankan bahwa program nuklir mereka sepenuhnya berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan bertujuan untuk kepentingan sipil serta energi.

Baqaei menilai tuduhan tanpa bukti fisik yang kuat adalah upaya untuk menciptakan landasan hukum bagi AS guna melancarkan serangan pencegahan.

Bukan Perang atau Damai

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa ia memiliki “pandangan yang menguntungkan untuk negosiasi” yang akhirnya dapat melampaui situasi bukan perang atau damai ini.

Menurut Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pandangan Pezeshkian tersebut adalah “kesempatan bersejarah”.

Araghchi mengatakan bahwa kesepakatan “sudah di depan mata”.

Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, Araghchi mengatakan bahwa keberhasilan negosiasi AS bergantung pada “keseriusan pihak lain dan penghindaran perilaku dan posisi yang kontradiktif”.

Di sisi lain, AS mendesak membahas isu rudal saat pembicaraan baru dengan Iran.

Dalam pidato kenegaraannya pada hari Selasa, Trump menuduh Iran “mengejar ambisi nuklir yang jahat”.

Mengutip Arab News, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut klaim ini sebagai “kebohongan besar”.

Jangkauan maksimum rudal Iran adalah 2.000 kilometer menurut apa yang telah diungkapkan Teheran secara publik.

Namun, Layanan Penelitian Kongres AS memperkirakan jangkauan maksimumnya sekitar 3.000 kilometer — kurang dari sepertiga jarak ke daratan Amerika Serikat.

AS juga telah mendorong untuk membahas program rudal balistik Iran, serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang memusuhi Israel.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio memperingatkan bahwa Iran juga harus bernegosiasi tentang program rudalnya.

Rubio menyebut penolakan Teheran untuk membahas senjata balistik sebagai “masalah yang sangat besar” menjelang pembicaraan.

“Presiden (Trump) menginginkan solusi diplomatik,” tegas Rubio.

Sumber: Tribun

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY