RAKYATDAILY.COM – Kelompok ekstremis Boko Haram dilaporkan menculik setidaknya 42 siswa dalam serangan di wilayah timur laut Nigeria, pada Jumat (15/5/2026) pagi.
Aksi penculikan tersebut dilakukan di sebuah sekolah menengah yang terletak di Negara Bagian Borno.
Melansir CNN Indonesia dari Anadolu, kabar mengenai insiden tersebut dikonfirmasi oleh Senator Ali Ndume pada Sabtu (16/5/2026).
Serangan tersebut diketahui menargetkan sebuah sekolah menengah negeri yang berada di desa Mussa, kawasan Askira-Uba.
Senator Ndume mengungkapkan bahwa insiden tersebut menimbulkan trauma mendalam bagi para orang tua siswa.
Kejadian itu membawa rasa sedih dan hancur bagi keluarga serta wali murid yang terdampak.
“Penculikan di sekolah ini jauh lebih mengerikan karena terjadi ketika para siswa yang kurang mampu dan tangguh ini sedang fokus mengikuti pelajaran pagi mereka,” ujar Ndume dalam sebuah pernyataan resmi, dilansir CNN Indonesia, Minggu (17/5/2026).
Ndume juga menyampaikan desakan kuat kepada lembaga keamanan, khususnya Angkatan Darat Nigeria, untuk segera mengintensifkan operasi penyelamatan darurat demi membebaskan puluhan siswa tersebut.
Nigeria telah lama berada di bawah bayang-bayang ketakutan akibat serangan kelompok radikal.
Wilayah timur laut negara ini menjadi basis operasi Boko Haram serta kelompok ISWAP yang berafiliasi dengan ISIS.
Sejak melancarkan pemberontakan bersenjata pada awal tahun 2000-an, aksi kekerasan massal Boko Haram tercatat telah menewaskan puluhan ribu jiwa sejak tahun 2009.
Kasus penculikan massal terhadap anak sekolah merupakan taktik usang namun mematikan yang kerap digunakan kelompok ini untuk tebusan atau propaganda.
Pemerintah Nigeria sebenarnya telah mengambil berbagai langkah strategis untuk meredam ancaman ini, termasuk mengerahkan pasukan komando tambahan dan bekerja sama dengan mitra internasional.
Sebagai bagian dari upaya global memerangi terorisme di tahun 2026 ini, Amerika Serikat bahkan telah mengerahkan sekitar 100 personel militer ke wilayah Nigeria utara sejak Februari lalu.
Pasukan khusus AS tersebut bertugas memberikan pelatihan taktis, berbagi intelijen, serta memberikan dukungan teknis kepada pasukan lokal guna membendung lonjakan serangan kelompok bersenjata.
Sumber: CNBC