Oleh: Heru Subagia | Pengamat Politik dan Ekonomi
Untuk kesekian kalinya, Prabowo Subianto merasakan ketidaknyamanannya terhadap orang pintar sebagai pihak dilawannya.
Dalam pidato resmi, Presiden RI Prabowo Subianto menyentil keras pihak yang dalam pandangannya tidak patriotik dan cinta tanah air.
Situasi acara semakin mendadak tegang ketika pidatonya di Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II, Cilacap, Jateng, Rabu (29/4/2026), Prabowo kembali menyinggung narasi ‘Indonesia Gelap’ dan ‘kabur aja dulu’ yang sempat ramai beberapa waktu lalu.
“Ada yang mau kabur. Ada yang mau kabur, kabur aja, kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan,” kata Prabowo.
Persoalan bukan tambah takut atau mundur untuk bersuara ketaa merespon apa yang dikatakan agenda “Perang Lawan Orang Pintar”.
Sejumlah Kritik sengaja dilontarkan untuk menjawab Pidato Prabowo adalah pernyataan paling kejam dan error bagi Bangsa Indonesia dan warganya sendiri.
Pertama, menyoroti pernyataan Prabowo yang meminta pihak-pihak yang menganggap Indonesia dalam kondisi “gelap” atau mereka yang disebut “orang pintar” untuk “kabur ke Yaman.
Apa yang diucapkan oleh Prabowo tersebut tidak hati-hati dan tidak rasional, bahkan pernyataan ini emosional dan kontraproduktif bagi seorang pemimpin yang dipilih secara langsung di pilpres 2024.
Dinilai provokatif dan menyakiti rakyatnya sendiri.
Sudah menjadi catatan khusus, pernyataan ini muncul dalam konteks kekesalan Presiden secara berulang-ulang dan spontan diucapkan terhadap para pengkritik dan pengamat yang sering melontarkan kritik kepada pemerintah.
Perlu dijawab oleh Prabowo sejauh mana seorang presiden mencerna da menganalisis “Orang Pintar” hingga diwujudkan sebagai lawan.
Seharusnya terbuka ruangan diskusi mengenai mengapa Presiden seolah memposisikan pengamat atau orang kritis sebagai musuh, alih-alih merangkul mereka sebagai bagian dari proses check and balance dalam demokrasi .
Kedua, Prabowo sering melakukan pemahaman dan cara berfikir yang terbalik-balik. Terjadi apa yang disebutkan Kontradiksi konstruksi pemikiran.
Presiden terpilih 58 persen di Pilpres 2024 kemarin, melekat ketidakkonsistenan retorika baik ucapannya dan tindakan sebagai Presiden.
Misalnya, antara kutipan “ingin hidup 1000 tahun lagi” untuk melihat Indonesia makmur dengan prediksi masa lalu tentang “Indonesia bubar”.
Ketiga, Kritik terhadap lingkungan istana, Penulis berpendapat bahwa adanya penyumbatan informasi di sekitar Presiden menyebabkan informasi faktual dan kritis dari masyarakat tidak tersampaikan dengan baik.
Istana dan komunikasinya harus dibredel dan digantikan orang-orang kepercayaan baru yang lebih pandai dan pintar menyeimbangkan kepentingan masyarakat dan juga kepentingan yang sangat urgent untuk bisa masuk langsung ke telinga Presiden.
Betul, ada penyaringan informasi ketat tetapi bukan justru informasi yang memberikan masukan dan kritik diplintir sebagai agenda makar dan menyerang harkat martabat Presiden.
Alhasil, cara pandang Prabowo semakin dibenarkan oleh informasi yang sudah disesatkan oleh lingkungan dan istana.
Secara keseluruhan, pembicara menekankan bahwa posisi seorang presiden seharusnya mewakili seluruh rakyat Indonesia dan berharap masukan-masukan yang lebih progresif dapat diberikan kepada Presiden agar tidak terjadi kegaduhan komunikasi di masa depan. ***