Membedah 5 Layer Psikologi di Balik ‘Dendam’ Prabowo pada Narasi Indonesia Gelap

DEMOCRAZY.ID – Presiden Prabowo Subianto kembali menyuarakan jargon “Indonesia terang, bukan gelap”. Kali ini disampaikan saat berpidato di acara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional di Cilacap, Selasa (29/4/2026).

Video pidato itu bukan rekaman lama. Sejumlah stasiun televisi nasional menayangkan pernyataan Prabowo itu pada Rabu (29/4/2026).

Namun yang menarik, kata “Indonesia Gelap” justru terus diulang Prabowo meski dengan nada penolakan.

“Kenapa beliau kelihatannya dendam banget sama kata ‘Indonesia Gelap’?” ujar pengamat psikologi politik, Faizal, melalui akun X @zalkad, dikutip pada Kamis (30/4/2026).

Menurut Faizal, jawabannya ada di psikologi politik. Ada lima lapisan yang bekerja bersamaan di balik narasi “Indonesia Terang” versi Prabowo.

Compensatory Conviction: Semakin Ragu, Semakin Keras

Faizal menjelaskan, ada teori compensatory conviction. Semakin seseorang ragu di dalam, semakin keras dia bersuara di luar.

“Pemimpin yang legitimasinya masih diperdebatkan secara psikologis terdorong untuk terus membuktikan diri,” ujarnya.

Karena itu, “Indonesia terang” bukan pernyataan fakta. “Itu deklarasi identitas: saya pemimpin negara yang berhasil,” kritik Faizal.

Scapegoating Through Ambiguity: Musuh Dibuat Kabur

Prabowo tak menyebut nama saat bicara “pihak-pihak yang menimbulkan kegaduhan”. Bagi Faizal, ini teknik klasik scapegoating through ambiguity.

“Musuh yang kabur lebih berguna dari musuh yang konkret. Efeknya, siapapun yang kritis bisa dimasukkan ke kategori ‘pembuat gelap’. Orang jadi takut bersuara,” jelasnya.

Mengutip Foucault, Faizal menyebut, kekuasaan sejati adalah soal siapa yang berhak mendefinisikan realitas. Ketika wacana publik tak terkontrol, muncul cognitive dissonance: jarak antara citra diri pemimpin dan citra yang beredar.

“Pidato berulang adalah upaya menutup gap itu. Bukan mengubah fakta, tapi mengubah cara fakta dibaca,” kata dia.

In-Group Reinforcement: Pidato untuk Loyalis

Yang sering luput, kata Faizal, pidato itu bukan untuk pengkritik. Pengkritik tak akan berubah pikiran.

“Audiens yang disasar sebenarnya basis loyalis yang butuh konfirmasi emosional bahwa pemimpin mereka kuat,” ujarnya.

Dalam psikologi sosial, ini disebut in-group reinforcement. “Pidato bukan argumen rasional, tapi ritual kohesi kelompok. Tujuannya bikin solid kelompok pro status quo,” urainya.

The Lady Doth Protest Too Much

Faizal mengutip Shakespeare: the lady doth protest too much. Dalam psikologi, ketika seseorang terlalu keras membantah, justru itu yang patut dipertanyakan.

“Pemimpin yang benar-benar merasa aman dengan kekuasaannya tidak perlu berulang kali menegaskan bahwa segalanya baik-baik saja. Pengulangan itu sendiri adalah sinyal,” tegasnya.

Bukan Soal Terang-Gelap

Faizal menyimpulkan, narasi ini bukan soal Indonesia terang atau gelap.

Ini soal psikologi pemimpin yang belum selesai berdamai dengan legitimasinya sendiri.

Lima lapisan itu, kata dia, bekerja bersamaan. Bukan salah satu, tapi semuanya sekaligus.

Sumber: Fajar

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY