RAKYATDAILY.COM – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyarankan pihak pengkritik untuk “pergi ke Yaman” juga menuai kritik dari sisi demokrasi.
Salah satu Direktur CELIOS, Dr. Muhammad Zulfikar Rakhmat, menilai respons tersebut mencerminkan pendekatan yang kurang konstruktif terhadap perbedaan pendapat.
Alih-alih menjawab kritik secara argumentatif, Prabowo dinilai memilih untuk menolak dan mengabaikan substansi kritik yang muncul.
“Ini bukan cara menghadapi kritik dalam sistem demokrasi. Kepemimpinan yang kuat seharusnya mampu merespons, bukan menyingkirkan perbedaan,” ujar Zulfikar dalam opini yang dimuat di Middle East Monitor, Jumat, 1 Mei 2026.
Ia menilai sikap tersebut berpotensi melemahkan ruang dialog publik yang sehat, di mana kritik seharusnya menjadi bagian penting dalam proses evaluasi kebijakan.
Lebih jauh, Zulfikar menyoroti dampak pernyataan tersebut terhadap citra Indonesia di mata internasional, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Ia menilai penggunaan Yaman dalam konteks negatif dapat menciptakan kesan bahwa penghormatan Indonesia terhadap negara lain bersifat tidak konsisten.
Padahal, Indonesia sendiri baru mengambil langkah diplomatik dengan memperkuat hubungan dengan Yemen, termasuk melalui penunjukan duta besar baru pada 2026.
“Diplomasi tidak hanya soal kebijakan formal, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin berbicara dan menunjukkan respek,” katanya.
Ia menekankan pernyataan publik seorang kepala negara memiliki dampak luas, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di tingkat global.
Menurutnya, insiden ini seharusnya menjadi momentum refleksi bagi pemerintah untuk memperbaiki cara berkomunikasi di ruang publik, terutama dalam menghadapi kritik.
“Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga soal persepsi. Dan persepsi itu dibentuk dari kata-kata,” kata Zulfikar.
Prabowo: “Kita dibikin apalagi, Indonesia gelap? Matanya burem! Indonesia gelap, Indonesia terang! Ada yang mau kabur, kabur aja, kau kabur aja ke sana! Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan!” pic.twitter.com/gFEPtNFHw9
— Jejak digital. (@ARSIPAJA) April 29, 2026
Sumber: Konteks