RAKYATDAILY.COM – Istilah “Efek Jokowi” atau “Jokowi Effect” menjadi perbincangan hangat dan trending di Google Indonesia pada Jumat, 15 Mei 2026.
Fenomena ini dipicu oleh manuver politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang secara terang-terangan menjadikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai patron perjuangan politik mereka.
i sisi lain, organisasi relawan Projo juga tak mau ketinggalan dan ikut berebut pengaruh mantan presiden yang masih memiliki daya magnet politik tinggi tersebut.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: seberapa efektifkah Jokowi effect dalam mendongkrak elektabilitas partai politik di Pemilu 2029?
Ketua DPP PSI, Bestari Barus, secara terbuka menyatakan bahwa Jokowi telah menjadi bagian dari partai berlambang gajah tersebut.
Menurutnya, PSI telah menetapkan Jokowi sebagai patron politik untuk perjuangan partai ke depan.
“Pak Jokowi itu di PSI sudah gitu. Nah itu satu, dia akan bersama kami, dan kita sudah menetapkan beliau sebagai patron politik daripada perjuangan PSI ke depan. Hanya tinggal nunggu waktu yang tepat saja, mengingat kesehatan beliau,” ujar Bestari , Kamis (14/5/2026).
Bestari menegaskan bahwa Jokowi akan segera turun gunung membantu pemenangan PSI pada Pemilu 2029.
Janji tersebut sudah disampaikan langsung oleh Jokowi dalam Rakernas PSI di Makassar pada Januari 2026 lalu.
“Kalau diperlukan saya harus datang, saya masih sanggup. Saya masih sanggup datang ke provinsi-provinsi, semua provinsi. Saya masih sanggup datang ke kabupaten/kota, kalau perlu sampai tingkat kecamatan saya masih sanggup,” tegas Jokowi saat itu di hadapan kader PSI.
Tak hanya PSI, organisasi relawan Projo yang selama ini identik dengan Jokowi juga ikut dalam perebutan pengaruh.
Projo menyebut bahwa kondisi Jokowi telah pulih 99 persen dan siap berkeliling Indonesia pada Juni 2026 mendatang untuk bertemu masyarakat.
Klaim tersebut langsung dibantah oleh PSI. Bestari Barus dengan tegas menyatakan bahwa partainya yang menyiapkan Jokowi untuk berkeliling Indonesia, bukan Projo.
“Kita yang menyiapkan. Saya enggak tahu itu Projo, Projo apa ya? Projo kan bukannya bukan Pro Jokowi? Bukan Pro Jokowi, pada waktu itu pernah ngomong. Jadi agak membingungkan,” ujar Bestari menanggapi klaim Projo.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai klaim saling berebut Jokowi ini justru akan membuat dampak pengaruh Jokowi semakin kecil.
Menurutnya, Projo tetap akan menggunakan nama Jokowi karena organisasi itu besar berkat tokoh asal Solo tersebut.
Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menilai efek Jokowi dalam kontestasi politik tidak akan sama seperti masa-masa sebelumnya.
Sentimen publik terhadap Jokowi kini berbeda, yang menjadi tantangan bagi PSI maupun Projo.
“Justru hari ini orang memaki, men-downgrade dan mencaci Jokowi di media sosial. Jadi kita lihat nanti namanya usaha ya, enggak apa-apa namanya keyakinan usaha, coba saja, semoga berhasil,” ujar Pangi, Jumat (15/5/2026).
Pangi mengingatkan bahwa memanfaatkan nama Jokowi bukan jaminan untuk mendapatkan hasil maksimal dalam pemilu.
Ia berkaca pada pengalaman PSI di Pemilu 2024 yang mengusung “Jokowisme” tetapi justru gagal memenuhi ambang batas parlemen.
Dedi Kurnia Syah dari IPO juga menambahkan bahwa Jokowi sebetulnya tidak memiliki dampak signifikan pada elektabilitas partai politik.
“Membaca jejak pengaruh Jokowi di Pemilu 2024, dan dalam catatan survei yang IPO lakukan, Jokowi sebetulnya tidak memiliki dampak signifikan pada elektabilitas Parpol,” kata Dedi dikutip dari Kompas.com, Jumat (15/6/2026).
Ia mencontohkan posisi PSI yang justru berada di bawah Perindo dan setara dengan partai-partai baru lainnya seperti Partai Ummat, Gelora, dan PKN.
Menurutnya, kemenangan Prabowo di Pilpres 2024 juga tidak didominasi oleh faktor Jokowi semata.
Terlepas dari keraguan para pengamat, Jokowi sendiri telah menyatakan kesiapannya untuk bekerja keras memenangkan PSI.
Ia bahkan berjanji akan turun langsung hingga ke tingkat kecamatan di seluruh Indonesia.
“Indonesia ini punya 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan kira-kira 7.000 kecamatan. Saya masih sanggup,” tambah Jokowi dalam pernyataannya di Makassar.
Jokowi menekankan bahwa kekuatan partai politik terletak pada struktur yang kuat dan bekerja nyata di tengah masyarakat.
Selain penguatan struktur, ia juga menyoroti pentingnya militansi para pengurus dan kader dalam membesarkan PSI.
“Saudara-saudara bekerja keras untuk PSI, saya pun akan bekerja keras untuk PSI. Saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya pun akan bekerja mati-matian,” tegas Jokowi, memberikan semangat kepada seluruh kader partai.
Publik kini menunggu realisasi dari rencana Jokowi turun gunung tersebut.
Apakah Jokowi effect benar-benar mampu mengantarkan PSI lolos ke Senayan pada Pemilu 2029, atau justru sebaliknya, menjadi bumerang bagi partai berlambang gajah tersebut.
Yang jelas, dinamika politik Indonesia semakin menarik menjelang pesta demokrasi lima tahunan mendatang.
Sumber: Fajar