Kebanyakan ‘Mulut’ Malah Jadi Bising! Doktor Selamat Ginting Bongkar Borok Komunikasi Kabinet Prabowo: Fatal dan Kacau Balau

RAKYATDAILY.COM – Riuh rendah komunikasi politik di lingkar kekuasaan Presiden Prabowo Subianto kembali menuai sorotan.

Doktor Selamat Ginting, dalam perbincangan bersama Indra J Piliang di Forum Keadilan TV, menilai problem utama pemerintahan saat ini bukan sekadar pada figur, melainkan pada struktur komunikasi yang dinilai “kocar-kacir” dan tak terkonsolidasi.

Selamat Ginting mengurai, sejak satu setengah tahun menjabat, pola komunikasi Prabowo memang mengalami pergeseran dari gaya konfrontatif menjadi lebih institusional.

Namun, perubahan itu tidak diikuti dengan sistem komunikasi pemerintahan yang rapi.

Akibatnya, publik justru menangkap pesan yang tercerai-berai—presiden berbicara dengan satu nada, sementara para pembantunya kerap berjalan di jalur berbeda.

Ia mencontohkan, banyaknya “corong suara” dalam pemerintahan—mulai dari penasihat komunikasi, badan komunikasi pemerintah, hingga peran sekretaris kabinet—justru menciptakan kebisingan.

Alih-alih memperjelas pesan, kondisi ini membuat publik kebingungan membedakan mana suara resmi negara, mana suara partai politik, dan mana sekadar opini individu pejabat.

“Presiden kuat, tapi juru bicara lemah,” kata Selamat Ginting, menggambarkan ketimpangan yang terjadi.

Ia menilai, narasi pemerintah sering terlambat merespons isu.

Dalam era digital, kekosongan informasi seperti ini dengan cepat diisi spekulasi, disinformasi, hingga opini liar yang sulit dikendalikan.

Lebih jauh, ia menyoroti tidak adanya “single narrative” dalam pemerintahan.

Jika pada era Joko Widodo dikenal dengan narasi pembangunan infrastruktur dan hilirisasi, maka di era Prabowo, arah besar komunikasi dinilai masih kabur.

Publik, menurutnya, belum menemukan benang merah: apakah pemerintah berfokus pada ketahanan nasional, ekonomi rakyat, atau stabilitas geopolitik.

Situasi ini diperparah oleh struktur kabinet yang gemuk.

Banyaknya partai politik dalam koalisi membuat setiap kementerian membawa kepentingan komunikasi masing-masing.

“Ini bukan hanya gemuk, tapi banyak komando,” ujar Selamat Ginting. Ia menegaskan, semakin besar koalisi, semakin sulit menyatukan pesan politik.

Dalam praktiknya, kondisi tersebut melahirkan fenomena “shadow spokesperson”—tokoh-tokoh yang berlomba memberi pernyataan untuk membela pemerintah, namun justru menambah keruh situasi.

Alih-alih meredam, respons yang tidak terkoordinasi sering memicu tafsir baru di tengah masyarakat.

Selamat Ginting juga menyinggung gaya komunikasi personal Prabowo yang spontan dan improvisatif.

Menurutnya, karakter ini efektif saat menjadi oposisi, tetapi berisiko ketika berada di posisi kepala negara.

Setiap ucapan presiden, bahkan yang bersifat spontan, dapat berdampak pada pasar, diplomasi, hingga stabilitas psikologis publik.

“Presiden tidak lagi berbicara kepada satu ruangan, tapi kepada jutaan orang,” ujarnya, menekankan pentingnya kehati-hatian dalam memilih diksi.

Di sisi lain, ia melihat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tampil dengan gaya komunikasi berbeda—singkat, digital, dan minim narasi ideologis.

Meski dinilai aman dari kontroversi, pendekatan ini dianggap belum cukup kuat untuk membangun wibawa politik di level nasional.

Pada akhirnya, Selamat Ginting menyimpulkan, persoalan komunikasi di pemerintahan Prabowo bukan semata soal siapa yang berbicara, melainkan bagaimana sistem itu dibangun.

Tanpa disiplin narasi dan kejelasan komando, pemerintah berisiko terus “dikeroyok” oleh suaranya sendiri—sebuah kondisi yang, jika dibiarkan, dapat menggerus kepercayaan publik secara perlahan.

[FULL VIDEO]

Sumber: Herald

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY