RAKYATDAILY.COM – Di tengah lautan jutaan jemaah haji dari penjuru dunia yang menyemut di Tanah Suci, sebuah pemandangan sederhana namun begitu menyentuh hati mendadak menarik perhatian publik dunia Islam.
Seorang pria lanjut usia tampak berbaring di atas tanah, beristirahat di antara jemaah lainnya tanpa perlakuan khusus, tanpa pengawalan ketat, dan tanpa kemewahan yang biasa melekat pada seorang kepala negara.
Sosok itu adalah Presiden Pantai Gading, Alassane Ouattara.
Momen tersebut menjadi viral karena memperlihatkan sisi kesederhanaan seorang pemimpin tertinggi negara yang memilih datang menunaikan ibadah haji layaknya jemaah biasa.
Dilaporkan, Alassane Ouattara menunaikan ibadah haji menggunakan biaya pribadi dan menolak berbagai fasilitas kelas satu seperti hotel mewah, makanan lezat yang biasanya disediakan sesuai protokol kenegaraan.
Tak ada rombongan besar. Tak ada karpet merah. Tak ada jarak dengan rakyat biasa.
Bahkan banyak orang bertanya penuh heran sekaligus kagum: “Di mana pengawalnya?”
Pertanyaan itu terasa begitu kuat karena publik terbiasa melihat pemimpin dunia bergerak dengan pengamanan berlapis dan fasilitas super eksklusif. Namun di Tanah Suci, semua tampak berbeda.
Di hadapan Allah SWT, status sosial, jabatan, dan kemewahan dunia seakan luruh menjadi sesuatu yang tak lagi penting.
Alassane Ouattara sendiri dikenal sebagai sosok yang berhasil membawa Pantai Gading menuju stabilitas dalam beberapa tahun terakhir.
Di bawah kepemimpinannya, negara tersebut mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, keamanan lebih terkendali, dan pembangunan berjalan signifikan setelah sebelumnya sempat dilanda konflik politik berkepanjangan.
Banyak masyarakat menilai, rasa aman yang dirasakan seorang pemimpin sering kali lahir dari bagaimana ia memperlakukan rakyatnya.
Pemimpin yang adil akan menghadirkan ketenangan. Pemimpin yang menebar keamanan kepada rakyatnya, akan merasakan keamanan dalam hidupnya.
Pemandangan sederhana Presiden Pantai Gading yang berbaring di atas tanah itu akhirnya bukan hanya menjadi potret kesahajaan seorang kepala negara, tetapi juga pengingat mendalam bagi banyak orang tentang hakikat kehidupan.
Bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang, sehebat apa pun pengaruh dan kekayaannya, pada akhirnya semua manusia akan berdiri sama di hadapan Sang Pencipta.
Di Tanah Suci, tidak ada pembeda antara presiden dan rakyat biasa. Semua mengenakan kain ihram yang sama. Semua menghadap kiblat yang sama.
Dan semua memohon ampun kepada Tuhan yang sama.
Mungkin itulah salah satu pelajaran terbesar dari ibadah haji: menghapus sekat-sekat dunia yang selama ini membuat manusia merasa lebih tinggi dari sesamanya.
Sebab pada akhirnya, kemuliaan bukan terletak pada jabatan ataupun kemewahan, melainkan pada ketakwaan dan kerendahan hati.
Sumber: Fajar