RAKYATDAILY.COM – Kapal-kapal berhasil melewati Selat Hormuz menggunakan trik khusus yang dikombinasikan dengan bantuan militer Amerika Serikat (AS), menurut laporan Wall Street Journal, Jumat (29/5/2026).
Beberapa minggu terakhir, sejumlah kapal melintasi penyeberangan di jalur berbahaya tersebut.
Di antaranya adalah kapal tanker terbesar yang memuat minyak dan gas alam cair.
Beberapa kapal berlayar secara “dark (gelap),” istilah di industri pelayaran ketika kapal mematikan lampu dan berlayar tanpa suar navigasi atau Sistem Identifikasi Otomatis (AIS).
Dengan mematikan fitur tersebut, kapal lebih sulit dideteksi secara elektronik dan mengurangi potensi serangan dari Iran.
Sebagian kecil penyeberangan melewati bagian Teluk yang telah disterikan AS awal bulan ini sebagai bagian dari “Proyek Kebebasan”.
Meskipun operasi yang melibatkan pengawal angkatan laut dan udara AS tersebut tidak berlangsung lama, proyek ini meninggalkan jalur yang relatif aman melalui Teluk Persia.
Dalam aksi tersebut, beberapa kapal tetap terhubung dengan militer AS, yang menggunakan radar, drone, dan alat lainnya untuk memantau lalu lintas dan membantu mereka melintas dengan aman.
AS memberi mereka saran kapan harus mematikan komunikasi dan bagaimana menanggapi ancaman Iran, demikian dilaporkan WSJ mengutip pemilik kapal dan militer AS.
Kapten Tim Hawkins, Juru Bicara Komando Pusat AS, mengatakan bahwa pihaknya terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sebuah kapal tanker super Yunani yang bermuatan dua juta barrel minyak mentah berkomunikasi dengan AS saat melintasi jalur air di lepas pantai Oman awal pekan ini.
Kapal tersebut terjebak di Teluk Persia sejak awal Maret dan sekarang menuju India untuk mengirimkan muatannya.
Sebuah kapal milik China, Vicstar, berhasil melakukan pelayaran gelap pada 17 Mei dari Uni Emirat Arab ke Brasil setelah tertahan di Teluk selama hampir tiga bulan.
Awak kapal tersebut mengatakan bahwa kapal mematikan AIS pada malam hari dan berlayar di sepanjang pantai Oman.
Berlayar tanpa AIS atau sistem identifikasi otomatis cukup berisiko karena kapal tidak dapat saling melihat atau menentukan lokasi mereka di peta elektronik.
Sebagai gantinya, kapal-kapal bergantung pada radar untuk navigasi dan membutuhkan orang berpengalaman yang memegang kemudi.
Nakhoda juga perlu pandai-pandai mengantisipasi kapal lain.
Terlebih karena radar tidak menampilkan nama kapal, sehingga komunikasi, koordinasi, dan manuver untuk menghindari tabrakan menjadi sulit.
“Jelas ada risiko keselamatan dan keamanan (berlayar dalam mode gelap)”, kata Claire Jungman, direktur risiko dan intelijen maritim di Vortexa.
Sumber: Kompas