Menurut Ahok, mengubah hutan hujan Papua menjadi kebun sawit bukan hanya keliru secara ekologis, tetapi juga berpotensi memicu bencana lingkungan berskala besar.
Dalam pandangannya, hutan hujan tropis tidak bisa diperlakukan sama dengan lahan tandus atau bekas tambang.
Papua memiliki ekosistem yang sangat kompleks dan rapuh, tempat ribuan spesies flora dan fauna hidup dan bergantung satu sama lain.
“Kalau Anda rubah hutan hujan jadi sawit, tanaman monokultur flora fauna kita akan bisa hidup?” ujar Ahok.
Sawit, kata Ahok, adalah tanaman monokultur. Artinya, hanya satu jenis tanaman yang mendominasi lahan dalam skala luas.
Pola ini bertolak belakang dengan karakter hutan hujan yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Ketika hutan dibabat dan diganti dengan sawit, rantai kehidupan yang sudah terbentuk selama ratusan bahkan ribuan tahun akan terputus.
Papua dikenal sebagai salah satu wilayah dengan biodiversitas tertinggi di dunia.
Burung cenderawasih, berbagai jenis mamalia endemik, hingga tumbuhan obat tradisional hidup di dalam hutan yang masih relatif utuh.
Konversi hutan menjadi perkebunan sawit berisiko menghilangkan habitat alami mereka secara permanen.
Lebih jauh, Ahok mengingatkan bahwa dampak kerusakan hutan tidak berhenti pada punahnya flora dan fauna.
Risiko bencana ekologis juga mengintai, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga perubahan pola air yang merugikan masyarakat setempat.
“Ini akan membawa bencana seperti di Sumatera,” tegasnya.
Pernyataan itu merujuk pada pengalaman pahit sejumlah wilayah di Sumatera.
Yang mengalami kerusakan lingkungan setelah pembukaan hutan besar-besaran untuk perkebunan dan tambang.
Banjir tahunan, kebakaran lahan, dan konflik manusia dengan satwa liar menjadi masalah yang terus berulang.
Menurut Ahok, Indonesia seharusnya belajar dari kesalahan tersebut, bukan justru mengulangnya di Papua.
Ia menilai alasan ekonomi tidak bisa dijadikan pembenaran untuk mengorbankan hutan hujan yang memiliki fungsi vital bagi iklim, air, dan kehidupan manusia.
Ahok juga menekankan bahwa sawit sebenarnya tetap bisa dikembangkan tanpa merusak hutan.
Ia mencontohkan praktik di negara lain yang menanam sawit di lahan-lahan rusak seperti bekas tambang atau wilayah tandus, bukan di hutan primer.
Bagi Ahok, menjaga hutan Papua bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal masa depan bangsa.
Hutan berperan sebagai penyerap karbon alami, penyangga kehidupan masyarakat adat, sekaligus benteng terakhir menghadapi krisis iklim global.
Ia mengingatkan bahwa sekali hutan hujan hilang, hampir mustahil untuk mengembalikannya seperti semula.
Reboisasi tidak pernah benar-benar bisa menggantikan ekosistem alami yang telah rusak.
Pernyataan Ahok ini pun memantik diskusi luas di ruang publik. Di tengah dorongan pembangunan dan ketahanan energi, suara peringatan soal lingkungan kembali menguat.
Papua bukan lahan kosong, melainkan rumah besar yang menyimpan kekayaan alam tak ternilai.