Ahok Blak-Blakan Soal Chromebook Nadiem: Kalau Saya Jadi Menteri Pendidikan, Saya Juga Akan Beli!

RAKYATDAILY.COM – Pernyataan mengejutkan keluar dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat berbincang dalam sebuah podcast Curhat Bang dari Denny Sumargo.

Di tengah ramainya polemik pengadaan Chromebook di lingkungan pendidikan.

Ahok justru mengatakan bahwa jika dirinya menjabat sebagai Menteri Pendidikan, ia akan mengambil keputusan yang sama.

Dalam pernyataan yang muncul, Ahok mengatakan dengan tegas

“Kalau saya jadi Menteri Pendidikan saja nih gua pun akan beli Chromebook.”

Ucapan itu langsung memancing perhatian publik karena disampaikan di tengah isu dugaan penyimpangan pengadaan perangkat teknologi pendidikan.

Namun Ahok menegaskan bahwa pernyataannya murni berdasarkan kalkulasi efisiensi dan pengalaman birokrasi yang pernah ia jalani.

Alasan Ahok: Efisiensi, Pengawasan Guru, dan Sertifikasi Internasional

Ahok menjelaskan panjang lebar mengapa ia menilai Chromebook adalah opsi yang logis untuk dunia pendidikan, bukan sekadar keputusan politik.

Ia mengungkap pengalaman saat menjabat sebagai bupati.

Ia harus menanggung biaya besar untuk ujian sertifikasi guru mulai dari sewa hotel, konsumsi, hingga transportasi.

Chromebook dinilai menekan biaya tersebut karena ekosistem Google Education memungkinkan guru mengikuti sertifikasi internasional dengan biaya murah, hanya sekitar 10 dolar seumur hidup. Ia menegaskan.

“Lu bayangin ya, ada ratusan sampai ribuan guru mau ujian sertifikasi itu sudah berapa duit? Belum lagi kita enggak tahu dia ‘kakekin’ atau enggak.”

“Tiba-tiba ada sistem yang lebih murah dan transparan.”

Selain sertifikasi, Ahok menilai Chromebook memberi kontrol penuh kepada pemerintah terhadap proses belajar dan aktivitas guru.

Ahok kembali menegaskan bahwa Chromebook menawarkan biaya jangka panjang yang lebih rendah dibanding laptop konvensional yang membutuhkan upgrade spesifikasi setiap tahun.

“Gua paling sebel jadi bupati tiap tahun minta beli laptop baru karena speknya enggak kuat.”

” Kalau Chromebook, beli sekali sudah cukup, OS-nya ringan, enggak bayar lagi seumur hidup.”

Pernyataan ini menunjukkan Ahok melihat Chromebook dari perspektif anggaran, bukan sekadar keputusan teknis.

Meski menyatakan pembelian Chromebook sebagai kebijakan yang rasional, Ahok menegaskan bahwa urusan dugaan korupsi tetap harus diuji secara hukum.

“Kalau soal pengadilan gimana gua enggak tahu lah itu. Nanti kita dengar di sidang ya.”

Hal ini menegaskan sikap netral bahwa pembelaannya bukan untuk membenarkan tindakan individu, melainkan sudut pandangnya terhadap kebijakan publik.

Dalam bagian lain ia menilai bahwa publik terlalu cepat membangun narasi bahwa pembelian Chromebook adalah kesalahan mutlak tanpa melihat konteksnya.

“Narasi yang dibangun seolah-olah salah beli. Mungkin gua salah ya, ini menurut keyakinan gua.”

Ahok mengkritik framing yang menyederhanakan isu kompleks menjadi tuduhan tunggal, tanpa melihat kebutuhan teknologi pendidikan yang berubah cepat.

Dari keseluruhan penjelasan, sikap Ahok dapat disimpulkan sebagai Pro kebijakan pembelian Chromebook berdasarkan hitungan efisiensi dan transparansi.

Netral terhadap proses hukum menyerahkan seluruh tuduhan ke pengadilan.

Kritis terhadap narasi yang terlalu cepat memvonis tanpa melihat konteks kebutuhannya.

Pernyataannya membuat publik kembali menilai bahwa kebijakan digitalisasi pendidikan memang tidak sederhana

Serta membutuhkan pendekatan berbasis data, bukan hanya opini.

Sumber: PojokSatu

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY