Analis Politik Agus Wahid Bongkar ‘Ambisi’ Jokowi Lewat PSI!

RAKYATDAILY.COM – Analis politik, Agus Wahid, memberikan pandangannya terkait dinamika politik nasional setelah pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan sekitar satu tahun.

Ia mengatakan, kondisi Indonesia saat ini masih dibelit persoalan sosial, ekonomi, dan hukum yang serius.

Pada saat bersamaan justru muncul manuver politik yang mengaraF.h pada upaya mempertahankan kekuasaan keluarga Presiden ke-7 RI, Jokowi melalui kendaraan politik baru.

Indonesia Masih dalam Krisis

Agus membuka analisanya dengan menggambarkan kondisi bangsa yang menurutnya belum keluar dari krisis multidimensi.

“Masih dilanda kemelut sosial-ekonomi bahkan hukum yang cukup serius. Itulah potret Indonesia saat ini. Namun, gerombolan sono sudah tak sabar,” ujar Agus kepada fajar.co.id, Senin (9/2/2026).

Ia menuturkan bahwa ada dorongan kuat untuk mempercepat kontestasi politik nasional, seolah pemilu lima tahunan ingin dimajukan lebih awal.

“Serasa, tahun kontestasi demokrasi per lima tahunan ingin segera ditarik maju lebih cepat,” kata Agus.

Gerakan Politik Makin Masif

Menurut Agus, indikasi percepatan tersebut terlihat dari gerakan politik yang semakin terbuka dan agresif.

“Indikatornya sangat benderang. Gerombolan sono dengan gegap gempita bergerak begitu massif dan ekstensif,” tegasnya.

Ia menyinggung perubahan logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dari bunga menjadi gajah sebagai simbol ambisi kekuasaan.

“Diawali dengan perubahan logo dari Bunga Revolusioner menjadi Gajah. Meski gajah mini, tapi jelaslah mengandung filosofi akan segera membesar gajah itu, lalu segera menginjak siapapun yang dianggap sebagai lawan dan penghalang,” tukasnya.

PSI, Jawa Tengah dan Sulsel

Agus juga menyinggung pernyataan elite PSI yang menyebut Jawa Tengah sebagai basis utama partai, serta klaim serupa di Sulawesi Selatan.

“Ketua Umum cangkokan yang hanya terproses dua hari menjadi anggota partai itu sesumbar, ingin menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang partainya,” katanya.

“Dan, baru-baru ini, dalam rapat kerja nasional di Makassar, pun Ketua Umumnya menunjukkan belalainya, siap menjadikan Sulsel sebagai kendang berikutnya,” lanjut Agus.

Peran Jokowi Sangat Aktif

Agus melihat bahwa ambisi PSI tidak lepas dari peran langsung Jokowi.

“Tak tanggung-tanggung, bokapnya pun bertekad akan membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Saya masih sanggup mengunjungi seluruh kabupaten/kota negeri ini, bahkan sampai ke tingkat kecamatan, tegasnya berapi-api. Demi membesarkan PSI,” ucapnya mengutip pernyataan Jokowi.

Ia menyebut respons warganet terhadap pernyataan tersebut justru bernada sinis.

“Terserah kau, Jokowi,” Agus prihatin melihat kondisi fisik Jokowi yang kian menurun.

Ambisi Politik Dinasti Solo

Agus mengatakan, Jokowi belum benar-benar rela kekuasaannya berakhir pada 1 Oktober 2024.

“Itulah ambisi politik Jokowi, yang tampaknya tidak pernah rela kekuasaannya sudah berakhir sesuai konstitusi,” katanya.

Ia lalu mengajukan pertanyaan besar terkait arah politik keluarga Jokowi.

“Yang perlu kita baca, apakah gelora politiknya untuk mengantarkan Gibran ke tangga Presiden RI ke sembilan, sekaligus mengantarkan adiknya sebagai penguasa baru di parlemen?,” timpalnya.

Atau bahkan, menurut Agus, membuka jalan bagi comeback Jokowi ke Istana.

Skenario Politik Anak-Bapak

Agus memaparkan sejumlah simulasi politik, termasuk kemungkinan pasangan anak-bapak dalam kontestasi nasional.

“Membaca ambisi calon dinasti Solo itu, bukanlah mustakhil,” Agus menuturkan.

Lulusan UI 1985 ini menilai bahwa kinerja Gibran sejauh ini tidak menunjukkan kapasitas kepemimpinan nasional.

“Tidak hanya plonga-plongo dan berstandar mental bocah, tapi juga memang tak mampu menunjukkan kinerjanya untuk standar nasional,” imbuhnya.

Kritik terhadap Era Jokowi

Dalam analisanya, Agus juga melontarkan kritik terhadap rekam jejak Jokowi selama satu dekade berkuasa.

“Bukan hanya rekam jejaknya yang koruptif di berbagai lini kekuasaan, tapi juga manipulasinya saat menuju kekuasaan, terutama pilpres 2019,” sesalnya.

Ia menyebut Indonesia berada di titik nadir dalam ekonomi, hukum, dan etika bernegara, disertai fitnah serta adu domba sistematis.

Isu Dua Periode Prabowo-Gibran

Agus lanjut mengatakan, isu dua periode Prabowo-Gibran terus didorong oleh kelompok loyalis Jokowi.

“Itulah sebabnya, Jokowi minimal para ternak Jokowi (terjok) terus mengumandangkan dua periode Prabowo-Gibran,” bebernya.

Namun, ia menyebut Prabowo justru terganggu dengan isu tersebut.

“Data verbal di lapangan menunjukkan, Prabowo gerah,” Agus menuturkan.

Bahaya Demokrasi dan Manipulasi

Agus mengingatkan risiko besar jika praktik politik manipulatif kembali terulang.

“Di sana-sini akan terjadi politik intimidatif oleh kekuatan bersenjata. Penyalahgunaan fasilitas negara, hingga manipulasi suara dari TPS sampai KPU dan MK,” tegasnya.

Ia menyebut pesta demokrasi bisa saja sudah diketahui pemenangnya sebelum digelar.

Seruan Penegakan Hukum Pemilu

Agus menyerukan agar hukum administrasi kepemiluan ditegakkan secara ketat.

“Gibran yang ga jelas ijazah SMA-nya harus dikejar sampai clear,” ucap dia.

Ia juga menyinggung dugaan terhadap ijazah Jokowi dan pentingnya integritas peradilan.

“Sebagai warga negara kita boleh taat hukum, tapi berhak tidak percaya pada sistem yang belum berintegritas,” terangnya.

Tidak berhenti di situ, Agus mengatakan bahwa Pilpres 2029 harus menjadi momentum penyelamatan bangsa.

“Akhir kata, komponen rakyat harus jauh lebih revolusioner saat memasuki masa kontestasi pilpres 2029,” tandasnya.

Agus bilang, sejumlah tokoh nasional layak dipersiapkan, serta membuka kemungkinan munculnya figur baru.

Tokoh-tokoh nasional yang dimaksud Agus seperti Anies Baswedan, Purbaya Yudhi Sadewa, Agus Harimurti Yudhoyono, Basuki Cahya Purnama, Yusril Ihza Mahendra, Machfud MD, Dedy Mulyadi, bahkan Puan Maharani dan wakil keluarga Cendana.

“Dan bisa jadi muncul nama yang belum pernah tampil ke permukaan selama ini, satria piningit,” kuncinya.

Sumber: Fajar

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY