Memilih sekolah untuk anak sering kali dimulai dari hal-hal yang terlihat: lokasi sekolah, fasilitas, lingkungan, biaya, hingga reputasi.
Namun ketika masuk ke pilihan sekolah internasional, ada satu pertanyaan lain yang tidak kalah penting: kurikulum apa yang akan dijalani anak selama bertahun-tahun?
Nama seperti IB dan Cambridge mungkin sudah cukup familiar bagi banyak orang tua.
Tetapi ada pula jalur pendidikan lain yang belum banyak dikenal di Indonesia, salah satunya Deutsches Internationales Abitur atau DIA dari sistem pendidikan Jerman.
Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda.
Karena itu, orang tua perlu melihat lebih jauh daripada sekadar nama kurikulum.

International Baccalaureate atau IB memiliki pendekatan yang cukup khas.
Anak tidak hanya diarahkan untuk menguasai materi pelajaran, tetapi juga diajak bertanya, melakukan penelitian, berdiskusi, dan menghubungkan berbagai pengetahuan dengan kehidupan nyata.
Pada jenjang IB Diploma Programme, misalnya, siswa tetap mempelajari berbagai kelompok mata pelajaran sekaligus menjalani komponen inti yang melibatkan penelitian dan refleksi.
Model seperti ini bisa menjadi pilihan bagi anak yang senang mengeksplorasi ide dan tidak keberatan dengan pembelajaran yang membutuhkan banyak proses.

Cambridge memiliki karakter yang berbeda.
Sistem ini dikenal dengan struktur akademik yang jelas dan pendekatan berbasis mata pelajaran.
Pada jenjang A Levels, siswa biasanya memilih beberapa mata pelajaran untuk dipelajari secara lebih mendalam.
Bagi anak yang sudah mengetahui bidang yang diminati, pendekatan tersebut dapat memberikan kesempatan untuk membangun penguasaan yang lebih kuat pada bidang tertentu.
Karena ujian menjadi bagian penting dalam sistem Cambridge, kemampuan mengelola pembelajaran dan mempersiapkan diri untuk evaluasi juga menjadi bagian dari perjalanan akademik siswa.

Nama Deutsches Internationales Abitur atau DIA mungkin belum sepopuler IB atau Cambridge di kalangan orang tua Indonesia.
DIA merupakan kualifikasi masuk universitas dari sistem pendidikan Jerman yang setara dengan Abitur.
Salah satu karakteristiknya adalah mempertahankan pendidikan akademik yang luas dan tidak mendorong siswa untuk terlalu cepat menentukan spesialisasi.
Anak dapat tetap mengembangkan kemampuan di berbagai bidang hingga jenjang akhir sebelum menentukan jalur studi yang lebih spesifik.
Bidang tersebut dapat mencakup sains dan teknologi, ekonomi, ilmu sosial, seni, bahasa maupun sastra.
Pendekatan ini juga berkaitan dengan filosofi pendidikan Jerman yang menempatkan pengembangan kemampuan intelektual, kemandirian, dan tanggung jawab sebagai bagian penting dari proses pendidikan.

Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak memiliki jawaban yang sama untuk setiap keluarga.
Anak yang senang mengeksplorasi ide dan belajar melalui diskusi mungkin memiliki pengalaman berbeda dengan anak yang lebih nyaman mempelajari beberapa mata pelajaran secara mendalam.
Begitu pula anak yang masih ingin mencoba berbagai bidang akademik mungkin membutuhkan lingkungan yang berbeda dari anak yang sudah yakin dengan bidang yang ingin ditekuni.
Karena itu, orang tua dapat mulai dengan mengenali karakter belajar anak.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi titik awal.

Kurikulum juga perlu dilihat dalam konteks rencana pendidikan jangka panjang.
IB dan Cambridge memiliki pengakuan internasional dan digunakan oleh siswa yang melanjutkan pendidikan ke berbagai negara.
DIA memberikan jalur yang sangat erat dengan sistem pendidikan tinggi Jerman.
Lulusan dengan kualifikasi DIA dapat melanjutkan ke universitas di Jerman dan juga memiliki peluang untuk mendaftar ke universitas di berbagai negara, sesuai dengan persyaratan masing-masing institusi.
Bagi keluarga yang sejak awal mempertimbangkan pendidikan tinggi di Eropa, khususnya Jerman, informasi mengenai jalur ini tentu layak dipelajari.

Pada akhirnya, kurikulum hanyalah salah satu bagian dari keputusan memilih sekolah.
Orang tua juga perlu melihat bagaimana guru mengajar, bagaimana sekolah mendukung perkembangan anak, bahasa yang digunakan dalam pembelajaran, sistem penilaian, kegiatan di luar kelas, serta bagaimana sekolah mempersiapkan siswa menuju jenjang berikutnya.
Nama kurikulum memang penting.
Tetapi yang lebih penting adalah memahami apa yang sebenarnya akan dialami anak setiap hari di dalamnya.
Dengan memahami perbedaan IB, Cambridge, dan DIA, orang tua memiliki gambaran yang lebih lengkap untuk berdiskusi dengan sekolah dan menentukan pilihan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak serta rencana keluarga.
