Citra Institute Ungkap 4 Alasan Prabowo Perlu Reshuffle Kabinet, Singgung Pengaruh Jokowi

RAKYATDAILY.COM – Isu perombakan kabinet atau reshuffle di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus menjadi sorotan.

Peneliti Senior Citra Institute Efriza menilai ada sejumlah alasan mendasar yang bisa mendorong Prabowo untuk segera mengocok ulang barisan pembantunya.

Efriza menegaskan bahwa reshuffle sepenuhnya merupakan hak prerogatif Presiden.

Namun, secara politik, langkah ini biasanya diambil untuk menyesuaikan komposisi pemerintahan dengan dinamika terkini, memperkuat koalisi, hingga merespons tuntutan publik.

“Reshuffle menjadi instrumen untuk memastikan efektivitas kerja kementerian sekaligus menjaga stabilitas politik di internal pendukung pemerintah,” kata Efriza, Jumat (17/4).

Lebih lanjut, Efriza membeberkan empat persoalan krusial yang saat ini mendera soliditas Kabinet Merah Putih.

Pertama, Efriza menengarai adanya loyalitas yang belum sepenuhnya bulat kepada Presiden Prabowo.

Dia menyebut proses pembentukan kabinet di awal sempat “direcoki” oleh pengaruh mantan Presiden Jokowi.

“Tak dimungkiri, wajah kabinet saat ini masih banyak diisi orang-orang kepercayaan Jokowi. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Prabowo untuk menunjukkan kepemimpinan yang mandiri,” tuturnya.

Persoalan kedua menyangkut kompetensi menteri.

Efriza menilai ada beberapa menteri yang ditempatkan bukan berdasarkan keahlian (merit system), melainkan sekadar mengakomodasi “orang yang berkeringat” saat masa kampanye.

Akibatnya, kinerja kementerian menjadi tidak optimal.

Ketiga, hasil evaluasi menunjukkan adanya menteri yang belum mampu mewujudkan visi, misi, maupun program prioritas yang dicanangkan Prabowo.

“Ada ketidaksinkronan antara kemauan Presiden dengan eksekusi di lapangan oleh menterinya,” tegas Efriza.

Keempat, menurut Efriza, masih ada deretan tokoh yang dianggap layak dan setia namun belum masuk ke dalam struktur pemerintahan.

Salah satu nama yang santer disebut adalah Budi Djiwandono.

“Ada kebutuhan Prabowo untuk menempatkan orang-orang yang benar-benar memahami visi beliau pada pos kementerian yang dinilai belum optimal,” tambahnya.

Efriza menyimpulkan, langkah reshuffle bukan sekadar soal pergantian individu, melainkan strategi besar Prabowo untuk konsolidasi kekuasaan.

“Prabowo tentu ingin pemerintahannya berdiri sendiri. Beliau ingin menghapus narasi liar yang menyebut pengaruh Jokowi masih terlalu kuat. Reshuffle adalah cara untuk menegaskan bahwa ini adalah murni pemerintahan Prabowo,” pungkasnya.

Sumber: JPNN

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY