RAKYATDAILY.COM – Guru Besar Ilmu Komunikasi dari Universitas Airlangga, Henri Subiakto, menyampaikan kritik terbuka terkait gaya komunikasi kepala negara dalam merespons kritik publik.
Menurutnya, seorang presiden tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan pernyataan yang justru berpotensi memperkeruh situasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Henri melalui akun media sosialnya, menanggapi pemberitaan media Tempo yang mengangkat pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait isu “Indonesia gelap”.
“Presiden gak perlu bicara seperti itu. Cukup bekerja dan membuat kebijakan untuk membuat semua rakyat percaya bahwa pemerintahannya sedang membawa Indonesia ke masa depan yang cerah,” tulis Henri, Kamis (30/4/2026).
Ia menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan tidak dibangun dari retorika, melainkan dari kinerja nyata dan kebijakan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam konteks komunikasi politik, menurut Henri, narasi yang menyalahkan rakyat atau merespons kritik dengan nada defensif justru kontraproduktif.
“Bukan malah nyalahin rakyat yang gak percaya dan mengkritik perilaku buruk pemerintahannya,” lanjutnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa fokus utama pemerintahan seharusnya adalah kerja konkret yang dapat dirasakan rakyat.
“Kalau kebijakan dan hasilnya nyata, rakyat akan percaya tanpa perlu banyak kata,” menjadi pesan implisit dari kritik tersebut.
👇👇
Presiden gak perlu bicara seperti itu. Cukup bekerja dan membuat kebijakan untuk membuat semua rakyat percaya bahwa pemerintahnya sedang membawa Indonesia ke masa depan yang cerah. Bukan malah nyalahin rakyat yg gak percaya dan mengritik perilaku buruk pemerintahnya. https://t.co/VJL2ijdfAg
— Henri Subiakto (@henrysubiakto) April 29, 2026
Prabowo: “Kita dibikin apalagi, Indonesia gelap? Matanya burem! Indonesia gelap, Indonesia terang! Ada yang mau kabur, kabur aja, kau kabur aja ke sana! Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan!” pic.twitter.com/gFEPtNFHw9
— Jejak digital. (@ARSIPAJA) April 29, 2026
Sumber: RadarAktual