RAKYATDAILY.COM – Politikus PDI-P Guntur Romli mengatakan, pose foto viral Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang menginjak kepala kerbau melambangkan pengikutnya dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terbuai oleh perilaku raja.
Padahal, kata Guntur, PSI dan para pengikut Jokowi sebenarnya terbuai oleh ambisi kekuasaan tanpa batas keluarga ayah Gibran Rakabuming Raka itu.
“Kepala kerbau yang diinjak melambangkan para pengikut Jokowi dan PSI yang terbuai di balik perilaku raja, padahal yang ada adalah ambisi kekuasaan tanpa batas untuk keluarga Jokowi,” ujar Guntur, Minggu (28/6/2026).
Guntur memaparkan, apa yang dilakukan Jokowi dalam foto, yakni menginjak kepala kerbau, semakin membuktikan kebenaran disertasi Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto.
Disertasi Hasto itu, menurut Guntur, menunjukkan bahwa Jokowi membangun identitas kepemimpinannya sebagai perpaduan the triangle of authoritarian populism, yang memadukan feodalisme dengan mempersepsikan dirinya sebagai seorang raja.
“Populisme dengan membagi-bagi amplop dan sembako untuk menarik rakyat, dan karakter Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai segala-galanya,” jelas Guntur.
“Tidak heran meskipun sudah menjadi Presiden 2 periode dan menjadikan anaknya Gibran sebagai Wapres melalui manipulasi MK, dan menantunya Bobby sebagai Gubernur Sumut, serta Kaesang sebagai Ketua Umum PSI,” imbuhnya.
Diketahui, prosesi Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi menginjak kepala kerbau saat menerima gelar kehormatan adat Lampung menjadi perbincangan publik.
Momen tersebut terjadi dalam rangkaian penganugerahan gelar adat kepada Jokowi di Kedaton Keagungan Lampung, Sabtu (27/6/2026).
Foto dan video Jokowi meletakkan kaki di atas kepala kerbau beredar luas di media sosial.
Banyak warganet kemudian mempertanyakan makna ritual tersebut dalam budaya Lampung.
Perhatian publik justru tertuju pada salah satu bagian prosesi, yakni saat Jokowi menjalani ritual menginjak kepala kerbau.
Prosesi singkat itu kemudian memunculkan berbagai pertanyaan.
Publik mempertanyakan apakah ritual tersebut hanya bagian dari tata cara adat atau memiliki pesan simbolis tertentu.
Hingga rangkaian acara selesai, Jokowi belum memberikan penjelasan khusus mengenai makna ritual tersebut.
Pihak penyelenggara juga belum menyampaikan keterangan resmi mengenai filosofi prosesi yang menjadi sorotan publik itu.
Sumber: Kompas