Terus terang. Terang terus. Bukan slogan sebuah merk lampu. Tapi ketidakmengertian penulis terhadap gerakan aktivis anti Jokowi yang menyuarakan isu pemakzulan Prabowo. Bukan penulis tidak setuju.
Lebih kepada ketidakmengertian jalan aksi yang ditempuh para aktivis anti Jokowi karena pemakzulan Prabowo sama artinya memberikan karpet merah bagi Gibran, yang diserang habis-habisan oleh kelompok anti Jokowi, menjadi presiden menggantikan Prabowo.
Mau utak-atik konstitusi tetap saja bila presiden berhenti ditengah jalan. Otomatis wakil presiden menjadi presiden.
Tidak ada celah Undang-undang pengganti Prabowo selain Gibran kecuali Gibran dilengserkan terlebih dahulu.
Tidak mungkin pula pemakzulan presiden dan wakil presiden melalui MPR. Pasca berlakunya UUD 2002 proses pemakzulan presiden dan wakil presiden hampir dapat dikatakan mustahil.
Selain prosesnya panjang. Mayoritas ketua umum partai politik tersandera kasus dugaan korupsi.
Satu-satunya jalan pemakzulan presiden dan wakil presiden melalui parlemen jalanan. Mengulang sejarah 1998.
Sayangnya, kelompok oposisi belum punya figur untuk memimpin reformasi seperti tahun 1998.
Disinilah muncul kekhawatiran itu. Isu pemakzulan Prabowo ditunggangi oleh kekuatan politik yang punya uang dan jaringan kekuasaan.
Parahnya lagi. Gerakan anti Jokowi yang awalnya lantang menyuarakan pemakzulan Gibran bergeser menjadi pemakzulan Prabowo. Ada apa? Kecewa Prabowo. Pastilah. Isu gerakannya blunder.
Bagaimana mungkin kelompok yang dikenal anti Jokowi. Getol menggugat ijazah palsu Jokowi dan Gibran tidak tamat SMA. Tapi gerakannya justru menguntungkan Jokowi dan Gibran.
Sedangkan isu pemakzulan Gibran hilang oleh isu pemakzulan Prabowo. Benarkah kelompok anti Jokowi masuk jebakan batman dengan menyuarakan pemakzulan Prabowo?
Jebakan batman yang menggiring kelompok anti Jokowi menyuarakan pemakzulan Prabowo. Diorkestrasi operasi senyap melalui manuver loyalis Jokowi di kabinet Prabowo. Pembusukan dari dalam.
Lain ceritanya bila kelompok anti Jokowi menyuarakan pemakzulan Prabowo-Gibran. Presiden dan wakil presiden diturunkan dalam satu paket.
Kelompok anti Jokowi terjebak. Bermain isu digenderang yang ditabuh lawan. Menari-nari di atas panggung yang tanpa disadari diskenario lawan.
Tanpa sadar mengikuti permainan, kemauan, atau skenario yang diatur oleh pihak lawan menyuarakan pemakzulan Prabowo. Tujuannya apa lagi kalau bukan Gibran Presiden.
Mau? Naudzubillah tsumma naudzubillah.