Sesumbarnya Esemka, Khotbahnya Maung, Yang Dipakai Mobil India, Sontoloyo!

RAKYATDAILY.COM – NEGERI ini tampaknya tidak pernah kekurangan pidato patriotik. Yang kekurangan justru konsistensi.

Mulut pejabat fasih berkhotbah tentang cinta produk dalam negeri, tetapi tangan mereka dengan enteng menandatangani kontrak impor. Logika macam apa ini?

Program MBG digembar-gemborkan sebagai mesin penggerak ekonomi nasional. Katanya efek domino akan menghidupkan UMKM, menggerakkan manufaktur, dan memperkuat industri nasional. Rakyat diminta percaya. Rakyat diminta bangga. Rakyat diminta bersabar.

Namun, yang terjadi justru parade ironi. Bahan makanan dikuasai pemain besar. Piring dan sendok diimpor dari Cina.

Dan kini, kendaraan pengangkutnya pun didatangkan dari India. Sebanyak 107 ribu unit mobil pikap didatangkan dari negeri film murah. Sebuah angka fantastis—fantastis dalam pengkhianatan terhadap logika kemandirian yang mereka sendiri khotbahkan.

Lebih ironis lagi, Menteri Perdagangan Budi Santoso dengan enteng berkata mobil impor tidak perlu izin impor. Tidak perlu persetujuan. Tidak perlu rekomendasi. “Kalau mobil kan bebas.”

Bebas? Bebas untuk siapa? Bebas bagi industri asing menggerus pasar nasional. Bebas bagi devisa mengalir keluar.

Bebas bagi tenaga kerja Indonesia kehilangan peluang kerja. Tetapi tidak bebas bagi industri nasional untuk tumbuh.

Padahal, Presiden Prabowo Subianto sendiri sebelumnya dengan gagah memerintahkan penggunaan kendaraan dalam negeri, khususnya produksi PT Pindad.

Mobil Maung dielu-elukan sebagai simbol kemandirian. Sebagai lambang kebanggaan nasional. Sebagai bukti Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Pidatonya menggelegar. Realitasnya ambyar. Yang dipakai justru mobil India.

Dua perusahaan India, Mahindra & Mahindra dan Tata Motors, kini tertawa lebar. Mereka mendapat pesanan raksasa.

Pabrik mereka hidup. Buruh mereka bekerja. Ekonomi mereka bergerak. Sementara di Indonesia? Industri nasional hanya kebagian tepuk tangan kosong.

Padahal, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sudah mengingatkan: impor akan mengalihkan nilai tambah dan lapangan kerja ke luar negeri. Sebuah peringatan yang masuk akal. Sebuah peringatan yang rasional. Namun, rupanya rasionalitas bukan prioritas.

Yang menjadi prioritas adalah pragmatisme jangka pendek. Atau mungkin kepentingan lain yang tidak pernah dijelaskan kepada publik.

Lebih menyakitkan lagi, proyek impor ini melibatkan BUMN, yaitu PT Agrinas Pangan Nusantara. Perusahaan milik negara justru menjadi agen pembelian produk asing. Negara membeli dari luar, bukan membangun dari dalam. Negara menjadi konsumen, bukan produsen.

Lalu, ke mana perginya mobil Esemka? Esemka yang dulu dielu-elukan sebagai simbol kebangkitan industri nasional?

Yang dulu dipamerkan sebagai bukti Indonesia mampu membuat mobil sendiri? Kini Esemka seperti hantu. Esemka berubah jadi kuntilanak. Ada dalam cerita. Tidak ada dalam realitas.

Inilah wajah sesungguhnya kekuasaan hari ini: nasionalisme di podium, impor di meja kontrak. Rakyat diberi retorika. Oligarki diberi proyek.

Lebih tragis lagi, semua ini terjadi di tengah penolakan publik terhadap program MBG yang tiada hari tanpa keracunan.

Alih-alih melakukan koreksi, pemerintah justru memberi penghargaan Bintang Mahaputera kepada para pelaksana program.

Sebuah sinyal yang jelas: kritik tidak penting. Yang penting program jalan terus.
Benar atau salah, bukan soal. Yang penting jalan.

Kebijakan impor besar-besaran ini bukan sekadar keputusan ekonomi. Ini adalah pernyataan politik.

Pernyataan bahwa negara ini lebih percaya pada industri asing daripada kemampuan bangsanya sendiri.

Ini bukan sekadar impor barang. Ini impor ketergantungan. Dan yang paling menyakitkan, semua ini terjadi di tengah slogan kemandirian yang terus diteriakkan.

Sesumbarnya Esemka. Khotbahnya Maung. Yang dipakai mobil India. Sontoloyo. ***

Artikel Terkait
RAKYAT DAILY