DEMOCRAZY.ID – Pegiat Media Sosial Ferry Koto menyentil gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto. Dia membandingkannya saat Prabowo belum jadi presiden.
“Dua puluh tahun berjuang untuk raih mandat rakyat, setelah diberi mandat malah hanya bisa buat gaduh dengan pidato ndak jelas arah,” kata Ferry dikutip dari unggahannya di X, Rabu (29/7/2026).
Dia menilai, kebiasaannya menuding sebelum berkuasa merupakan hal wajar. Bahkan sampai membuat buku berjudul Paradoks Indonesia.
“Saat belum berkuasa, sangat wajar tiap saat nuding-nuding, menunjukkan diri yang terpintar, menguasai persoalan, sampai buat buku,” ucapnya.
“Wajar, memang begitu lah seharusnya, yang di luar pemerintahan mengingatkan yang berkuasa,” sambung Ferry.
Tapi saat ini, menurutnya kebiasaan itu mesti diubah. Bukan malah menuding rakyat.
“Namun, jika sudah berkuasa, kebiasaan menuding-nuding itu mestinya berubah. Jangan malah berbalik tuding rakyat karena sudah berkuasa,” terangnya.
Dia meminta Prabowo mengingat kembali tudingannya ke penguasa.
“Saat berkuasa mestinya mengingat atas apa yang dituding ke penguasa. Ingatan itu yang digunakan untuk memperbaiki pemerintahan, memperbaiki hal yang salah dalam pemerintahan,” imbuhnya.
“Bukan malah lupa semua, berlaku seperti penguasa yang juga lakukan kesalahan di masa lalu,” tambah Ferry.
Tudingan londo ireng dari Prabowo belakangan jadi sorotan.
Itu disampaikan saat perayaan puncak hari lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta International Convention Center, Kamis (23/7/2026).
Mulanya, Prabowo menyebut telah menginstruksikan perbaikan sekolah. Jumlahnya mencapai 100.000 di tahun 2027.
“Tahun 2027, saya instruksikan harus lebih 100.000 sekolah yang sekian belas tahun tidak disentuh,” kata Prabowo.
Tapi menurutnya, ada media yang kerap mencari kesalahan.
Meliput sekolah yang tak diperbaiki, padahal yang sudah diperbaiki sudah banyak.
“Ada juga media yang walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum dipeebaiki. Dia foto besar, taruh di halaman pertama,” ujarnya.
Meski begitu, dia enggan membeberkan media dimaksud.
“Aduh. Dia kita kita nggak ngerti. Saya nggak sebut lah media mana itu, pada saatnya akan saya sebut,” imbuhnya.
Dia menegaskan, Indonesia negara demokrasi. Prabowo sendiri mengaku tak anti kritik.
“Kalian sudah tahu lah kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik, tapi kita bukan anak kecil,” ujarnya.
Tapi menurutnya, selalu ada pihak yang senang berbakti pada bangsa lain. Itu la yang dia sebut sebagai londo ireng.
“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain Itu yang dulu kita sebut londo ireng ya,” ungkapnya.
Jika dulu londo ireng bersama Belanda melawan bangsa sendiri. Sekarang sudah berbeda, kini dalam wujud profesi seperti jurnalis, pengamat, dan LSM.
“Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan, wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, apa itu LSM,” papar Prabowo.
Dia menanyakan dari mana pendapatan para jurnalis, pengamat, dan LSM tersebut.
“Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah. Kita tahu kan,” ujarnya.
Selama ini, para jurnalis, pengamat, dan LSM tersebut, selalu menyiarkan narasi Indonesia bakal kolaps. Tapi sampai saat ini tak pernah terjadi.
“Jadi saudara-saudara, kita paham ada kampanye besa untuk kita goyah. Indonesia kolaps. Bulan April lewat nggak kolaps, Mei lewat nggak kolaps, bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps,” ucapnya.