Oleh: Tarmidzi Yusuf | Kolumnis
Sendirinya kabur ke Yordania. Giliran ke orang lain, nyuruhnya Yaman. Satire kepada pihak yang menyuarakan “Indonesia Gelap”. Bukan matanya buram. Yang buram itu sampai 2029 tidak. Sehingga yang dipilih Yaman bukan Yordania.
Jangan-jangan karena kompetitor politiknya ada hubungannya dengan Yaman. Yaman yang disebut. Bukankah ada yang pernah kabur ke Yordania?
Yaman dipilih karena alasan personal dan atau gerah dengan kritik. Semasa gejolak politik tahun 1998. Tak lama setelah kejatuhan Presiden Soeharto ada yang kabur ke Yordania.
Bila Anda searching di Google. Kata kuncinya siapa yang pernah kabur ke Yordania. Maka Anda akan menemukan jawabannya.
Pasca kejatuhan Soeharto pada Mei 1998, ada yang menyebutnya kabur dengan tanda kutip. Ada pula yang menyebut mengasingkan diri.
Ketika itu berhembus tuduhan keterlibatan dalam kasus penculikan mahasiswa, serta tekanan dari berbagai pihak agar diadili, begitu jawaban Google.
Tempat kabur itu Yordania bukan Yaman. Karena Yaman lebih identik dengan seorang tokoh nasional yang berpeluang menjadi Presiden RI ke-9. Serangan politiknya tidak bermutu.
Beda halnya bila Anda searching seorang tokoh nasional dikaitkan dengan Yaman. Jawabannya positif. Tidak ada tudingan atau isu negatif lainnya. Penculikan, misalnya.
Ia dikaitkan dengan Yaman menurut Google karena latar belakang keluarganya yang merupakan keturunan Arab-Yaman (Hadramaut). Keluarga seorang pejuang kemerdekaan.
Isu Yaman sering digunakan oleh pihak tertentu untuk menyerang atau mengaitkan seorang tokoh nasional dengan narasi baik berupa satire, hoaks atau disinformasi bahkan fitnah.
Yaman dan Yordania sama-sama negara Islam di Timur Tengah. Yaman terletak di bagian selatan Jazirah Arab, sementara Yordania di bagian barat daya Asia.
Apakah setiap pengkritik pemerintah dianggap pro “Yaman”? Belum tentu juga. Banyak orang-orang kritis sekarang pengkritik pemerintah. Kritikus pemerintah tidak identik dengan “Yaman”.
Uniknya yang disindir kabur, “Yaman”. Jangankan kabur. Punya niat kabur pun tidak. Sebab republik ini lebih ia cintai daripada dirinya sendiri.
Sebaiknya yang mesti kabur itu yang punya rekam jejak buruk terhadap republik ini.
Negeri ini butuh orang-orang yang benar-benar berjuang untuk rakyat. Bukan mempolitisasi rakyat untuk kepentingan politik pribadi, keluarga dan kelompoknya. ***